PKS Tetap Mendukung SBY-Kalla Meski Gagal Pimpin DPRD DKI
Jum'at, 17 September 2004 | 19:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak akan mencabut dukungan terhadap pencalonan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla meski Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Heryawan kalah sebagai Ketua DPRD DKI Jakarta, pada Jumat (17/9) ini.
Menurut Presiden PKS, Hidayat Nurwahid, partainya tidak akan terpengaruh atas peristiwa itu dan mengambil langkah kontraproduktif. "Kami tetap komitmen memenangkan SBY-Kalla," ujarnya dalam konferensi pers di kantor pusat partai itu, Jakarta, Jumat (17/9) sore.
Menurut Hidayat, meski kecewa, tapi dia menekankan agar kader-kader PKS di Jakarta tidak menyurutkan langkah dan ragu memenangkan SBY-Kalla. "Jangan gamang untuk berpikir golput dan menarik gelanggang karena berarti anda terperangkap dalam skenario itu," katanya.
Menurut dia, kekalahan ini bagian dari skenario besar memecah belah komitmen yang sudah dicapai antara PKS dan SBY. Kata dia, jika ada yang sengaja menciptakan skenario agar perpecahan di tingkat pusat itu terjadi, maka usaha itu gagal karena PKS tidak mau terprovokasi.
Ia menjelaskan, PKS tidak pernah menyatakan berkoalisi dengan Partai Demokrat namun menandatangani nota kesepahaman dengan calon presiden dari partai itu, yaitu Yudhoyono. Memang diakuinya, ada kesepahaman antar PKS dan Partai Demokrat namun bukan dalam kerangka koalisi, melainkan mendukung SBY. "Jadi bukan sekedar barter kekuasaan," kata dia.
Hidayat menjelaskan, partainya tidak pernah membuat koalisi permanen, seperti halnya koalisi kebangsaan. Karena itu, DPP memberi kebebasan daerah bekerja sama dengan partai-partai lain, sepanjang dalam konteks demokrasi dan reformasi.
Dia mencontohkan, pemilihan Ketua DPRD Kodya Bandung beberapa waktu lalu dimenangkan PKS setelah berkoalisi dengan Partai Demokrat, PAN, PKB, PBB dan yang mengejutkan mendapatkan dua limpahan suara dari PDI Perjuangan sehingga mengalahkan calon dari Partai Golkar.
Justru menurut dia, peristiwa ini membuktikan bahwa PKS lebih mempunyai komitmen terhadap perubahan dari sekedar menjadi Ketua DPRD DKI Jakarta. Kekalahan ini, kata Hidayat, menjadi cambuk dan koreksi diri karena suara yang diperoleh PKS di DKI sebanyak 24 persen, ternyata tidak membuat mereka menjadi mayoritas tunggal.
Kekalahan itu diketahui Hidayat ketika dia tengah melakukan pertemuan Tim Pemenangan Pemilu SBY-Kalla bersama beberapa pimpinan partai politik. Berita itu diterimanya melalui pesan pendek di ponselnya bahwa Ahmad Heryawan kalah menjadi Ketua DPRD DKI.
Ia mengatakan, karena forum itu merupakan forum pemenangan SBY-Kalla, jadi tidak sempat membicarakan berita itu dalam forum. Namun diakuinya, hal itu sempat menjadi pembicaraan antar-pimpinan partai. Ketua Partai Demokrat, Subur Budi Santoso, Ketua PKB Alwi Shihab dan Sekjen PAN, Hatta Rajasa dalam pertemuan itu sempat menyayangkan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi.
Namun, menurut Hidayat, dalam pertemuan itu dia menekankan meskipun telah menjadi realitas politik, namun validitas antar partai dalam memenangkan SBY-Kalla, tidak boleh melemah dan terprovokasi.
SBY sendiri, kata Hidayat, setelah berkomunikasi dengan Subur, memperintahkan partai segera melakukan pembenahan dan pengkajian atas masalah itu serta memberikan sanksi kepada kader partai yang terbukti mendukung calon lain dari Partai Golkar, Ade Supriyatna.
Hidayat berharap, Sabtu (18/9) besok, usai SBY mengikuti ujian S3, dirinya bisa bertemu dengan calon presiden itu. Pertemuan itu diharapkannya sebagai klarifikasi dan menguatkan komitmen. "Juga membongkar konspirasi yang ada," kata Hidayat.
Istiqomatul Hayati - Tempo





