Politikus Lama PDIP Akan Menduduki Kantor DPP Lenteng Agung
Jum'at, 24 September 2004 | 13:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Selasa (28/9), para politikus lama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan menduduki Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDIP di Lenteng Agung, Jakarta. Hal ini dikatakan Sekretaris Jenderal PDIP, Sucipto yang juga mengaku kepada Tempo, Jumat (24/9), mendapatkan pesan pendek lewat telepon genggamnya yang berisi, "Nonong besok ke Jakarta, ada pertemuan. Pak Cip masih baik dengan Nonong? Kalau engga, hubungi Heri Perak. Orang ini loyal dengan Pak Cip. Nonong segan dengan Heri".
Menurut Sucipto, Nonong adalah "orangnya" Haryanto Taslam, mantan fungsionaris PDIP yang menyeberang ke Partai Nasional Banteng Kemerdekaan pimpinan Erros Djarot. Kabarnya, kata Sucipto, Haryanto Taslam akan mengerahkan massanya bersama Kwik Kian Gie menuntut pemecatan tiga tokoh PDIP yang dijuluki The Gang of Three: Sucipto, Pramono Anung dan Gunawan Wirosaroyo.
Selain pemecatan The Gang of Three, politikus lama PDIP juga akan menuntut pemecatan Sony Keraf dan Cornelis Lay. "Rencana pendudukan itu baru dilakukan setelah upaya tuntutan pemecatan tidak berhasil. Kalau tidak, digunakan pendekatan fisik. Tapi mudah-mudahan tidak," kata Sucipto.
Sucipto membantah jika dikatakan, selama ini para pengurus berupaya menyingkirkan Kwik. Ketidakhadiran Kwik dalam rapat-rapat DPP, karena yang bersangkutan selalu beralasan sibuk. Padahal, rapat rutin DPP memang tidak pernah menggunakan undangan tertulis dan hanya berdasarkan kesepakatan. "Setiap rapat rutin selalu diingatkan oleh Sekretariat," kata Sucipto.
Kesiapan Kwik menjadi anggota Kabinet Yudhoyono, justru menjadi kekhawatiran Sucipto. "Peristiwa di era Gus Dur akan terulang kembali. Waktu itu, Megawati kalah dalam pemilihan Presiden. Ketika Gus Dur sedang menyusun kabinet, Kwik adalah orang pertama yang datang ke Gus Dur. Jika begitu, kenapa harus mendiskreditkan teman partainya? Kwik itu butuh tiket masuk kabinet dengan menjual teman-teman dan partainya," kata Sucipto.
Aksi "cuap-cuap" Kwik, menurut Sucipto sudah diketahui Megawati yang selalu sabar menghadapinya. Para fungsionaris PDIP sudah berulang kali mengusulkan agar Kwik dipecat dari keanggotaan partai. "Tapi usulan itu ditolak Megawati dengan alasan, 'Daripada diluar cuap-cuap tidak karuan, lebih baik tetap di dalam saja'. Karena itu, partai cenderung mendiamkan aksi Kwik ini," kata Sucipto lagi.
Istiqomatul Hayati Tempo





