Presiden Minta Operasi Militer di Papua Tak Korbankan Warga Sipil

Kamis, 04 November 2004 | 22:35 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghendaki operasi pemulihan keamanan di daerah Pucak Jaya, Papua, tidak memakan korban warga sipil. Dalam instruksinya kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS dan Panglima TNI Endriartono Sutarto, Presiden meminta operasi itu dilakukan dengan hati-hati.

“Jangan sampai rakyat terkena ekses operasi,” kata mantan Gubernur Irian Jaya Barnabas Suebu mengutip pesan Preside, di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/11). Pada 12 Oktober silam, enam sopir yang biasa beroperasi di Trans Wamena Mulia, Puncak Jaya, ditembak sekelompok orang tak dikenal. TNI menuding penembakan dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Menurut Suebu, operasi pemulihan keamanan akan sulit dilakukan karena terjadi di daerah pedalaman. Dia meminta TNI berhati-hati dalam memilah-milah antara anggota OPM dengan warga sipil biasa. Pasalnya, OPM dan TNI sudah berkali-kali melakukan operasi yang menimbulkan trauma mendalam. “Kalau dia menyingkir dan suatu saat kembali, dia dikira anggota OPM, tapi kadang-kadang warga juga dituduh membantu TNI melawan OPM. Sehingga selalu dicurigai,” katanya mencemaskan.

Untuk menyelesaikan persoalan keamanan, Suebu menganjurkan pemerintah melibatkan tokoh-tokoh adat dan agama atau lembaga adat setempat. Mereka inilah, katanya, yang paling dihormati dan didengar masyarakat setempat. Dengan melibatkan mereka, diharapkan operasi militer tidak memberikan ekses negatif lebih besar. “Jangan hanya dengan pendekatan keamanan,” ucapnya.

Sapto Pradityo - Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: