Dering Terakhir Sebelum Ajal Menjemput

Kamis, 18 November 2004 | 21:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pagi itu, Rabu (17/11), sekitar pukul 07.00 WIB, Yuningsih dikejutkan oleh dering telepon. Terdengar suara yang tak asing lagi ditelinganya. Suara yang lantang, penuh semangat, dan sukacita tak terbendung. Suara itu tak lain milik Ahmad Fauzi alias Dicky (6 tahun), anaknya dari hasil perkawinannya dengan pasangan Ade Syaifuddin Mokhtar.

Dicky menelpon dari rumah neneknya, Ny. Yunus. Tak seperti biasanya, ia ingin bicara dengan ayah dan adiknya. "Adiknya di panggil Bu," kata Yuningsih menirukan suara anaknya.

Bagi orang tuanya, hal itu aneh karena bila bepergian Dicky hampir tidak pernah pamit. Hari itu, Dicky malah meminta ayahnya berhenti sebentar mencuci mobil untuk berbicara dengannya. Tapi Ade karena asyiknya tak mendengar permintaan Dicky itu. Suatau kejadian yang belakangan sangat disesalinya. Karena ketika itu terbersit rasa khawatir dan perasaan tidak enak di hati bapak dua anak ini.

Ade jadi ingat pada Selasa (11/11), sebelum kejadian, Dicky menunjukkan perilaku aneh. "Dia minta digendong dan dicium," katanya. Selain itu, anaknya ikut mengantar ke mobil ketika dirinya akan pulang. Hal yang tak pernah dilakukan sang buah hati sebelumnya.

Meski sehari-hari Dicky suka bermanja, tapi kemanjaannya itu lebih karena rasa cintanya pada keluarga. Dicky masih suka dimandikan, disuapi, dan digendong. Ke sekolah pun masih minta diantar, padahal orang tuanya sudah menyewa mobil jemputan.

Karena itu, sebenarnya Ade ingin melarang Dicky ikut bepergian ke Kebon Binatang Raguna, bersama sanak saudarnya. Tapi apa lacur,untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Tabrakan beruntun yang menyeret enam mobil di dekat pintu tol Cibubur, Jakarta Timur kemarin, membuat nyawa Dicky melayang untuk selamanya. Kejadian naas itu menggores luka mendalam bagi orang tunya. "Dicky itu anak yang menyenangkan, periang, dan lincah," ujar Ade.

Kenangan bersama Dicky tak akan terhapus begitu saja. Barang-barang yang ditinggalkannya, menjadi memori tersendiri bagi keluarganya. "Kami akan merawat barang-barang yang disukainya, terutama mainan-mainan, dan tiga aquarium buat pelihara ikan louhan, arwana, dan koki," kata Ade.

Dicky, yang baru tahun depan masuk Sekolah Dasar itu telah dimakamkan berdampingan bersama keluarganya yang lain, di makam keluarga dekat rumahnya, Kawasan Cimahpar, Bogor, Jawa Barat. Tak ada lagi tawa ceria Dicky di rumah Yuningsih dan Ade. Tak ada pula telepon dari Dicky untuk adiknya.

Eko Ari Wibowo - Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: