Gempa Nabire, Rumah Sakit Kehabisan Obat

Sabtu, 27 November 2004 | 16:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Hingga hari ke dua, gempa di Kota Nabire, Papua relatif kecil. Menurut George Muabuai, Asisten Seismologi, Badan Meteorologi dan Geofisika wilayah V (Lima) Jayapura, hingga jam 2 siang Waktu Indoesia Timur, Sabtu (27/11), ada 89 kali gempa susulan. Tetapi frekuensi yang tercatat relatif kecil.

Hingga saat ini, menurut Hendrik Rumantrai, Sekretaris Dewan Adat Papua wilayah Nabire, korban tewas bertambah dua orang menjadi 15 jiwa. Bangunan rusak juga bertambah dan aliran listrik masih padam.

Bantuan hingga saat ini menurut Hendrik, belum terlihat di lapangan meskipun hari ini rombangan Muspida propinsi Papua tiba di Nabire. “Bantuan berupa barang belum terlihat, saya tidak tau jika rombongan Muspida memberi uang atau semacamnya, tapi pemerintah setempat belum juga ada tindakan,” kata Hendrik.

Sementara itu, menurut Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire, dokter Pieter M. Poddala, hingga kini jumlah korban tewas yang masuk RSUD ada 6 orang, luka ringan 70 orang, dan luka berat 22 orang, sedangkan yang kritis 2 orang. Pasien luka ringan rata-rata sudah dapat pulang tapi menurut Pieter, mereka tetap harus berobat jalan.

Pieter menyayangkan kunjungan rombongan Muspida tidak berkunjung ke RSUD Nabire. Hingga saat ini, menurut Pieter, bantuan ke rumah sakit belum ada. Bahkan saat ini RSUD Nabire kehabisan obat-obatan dan stok cairan dan jarum infus, alcohol dan obat luka luar, antibiotik, juga analgesik. Ini menurut Pieter terkait karena hampir semua pasien belum dapat diberikan obat secara oral karena kondisi kesadaran korban umumnya belum bagus.

Untungnya fasilitas di RSUD Nabire tidak mengelami kerusakan parah, kecuali seluruh pagar sekitar 70 meter yang mengelilingi rumah sakit, rata dengan tanah.

Lita Oetomo






Komentar Anda

Kirim