Gus Dur Besuk Korban Lion Air, Ada Anggota PKB Tewas.
Selasa, 30 November 2004 | 23:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Mantan Presiden Abdurahman Wahid, Ny.Sinta Nuriyah dan Yenni Wahid menjenguk para korban di RS Islam Surakarta. Karena banyak korban dari kalangan Nahdliyin, diantaranya anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa, Jusuf Muhammad.
Menurut Kepala Polres Sukoharjo, AKBP Bambang Pratiknyo dan Kepala Polwil Surakarta, Kombes Abdul Madjid sampai Selasa malam (22.30) WIB dipastikan jumlah korban 23 orang. Diperkirakan akan bertambah.
Beberapa cerita penumpang pesawat Lion Air JT 538 yang berhasil ditemui Tempo. :
Pricel, warga Jakarta, ke Solo mau menjenguk ibunya. Ia duduk di barisan depan. Sejak berangkat dari Jakarta, menurut Pricel, pesawat sudah tidak stabil karena cuaca buruk alias turbulence. "Sejak awal memang perjalanan kurang nyaman," ujarnya. Ketika proses turun di Bandara Adi Sumarmo, proses turunnya tidak masalah. Tetapi tiba-tiba ketika masuk landasan pacu, pesawat tidak bisa mengerem. Akhirnya menabrak sampai di kuburan.
Benda-benda langsung berjatuhan dan penumpang panik tidak bisa keluar. Penumpanganpun mulai menangis histeris. Sementara Pricel mencoba menguasai diri dan mencari pintu darurat. Akhirnya dia keluar lewat pintu darurat.
Lain lagi cerita Sukarti, orang Pacitan. Ketika landing, terasa biasa, namun di tengah proses landing, tiba-tiba ada guncangan. Dia langsung panik. Ada benturan keras. Para penumpangpun panik dan berebut untuk keluar. Mereka pada lari ke arah kuburan yang dekat lokasi.
"Tidak ada pemberitahuan sama sekali," ujar Sukarti mengenai apa yang menimpa pesawat yang ditumpanginya.
Sudir, asal Bogor, merasakan tiga benturan. Waktu landing, terasa lurus. Namun ditengah landing, tiba-tiba pesawat berbelok-belok. Dia langsung panik dan mencoba membuka pintu darurat. Tetapi tidak bisa. Tiba-tiba pintu sebelah kiri terbuka dan diapun buru-buru keluar.
Seorang saksi mata, Nardi, 26 tahun, warga desa Manggung Kecamatan Ngemplak Boyolali yang mengantarkan saudaranya ke Bandara Adi Sumarmo. Sebelum terjadi kecelakaan, pesawat Garuda sudah berhasil mendarat dengan baik di bandara. Lima belas menit kemudian 18.20, saat pesawat Lion Air hendak mendarat. “Bahkan sudah terdengar bunyi rem. Tapi kelihatannya pesawat itu agak ke tengah, dan beberapa saat kemudian pesawat berusaha naik lagi, dan sempat melewati pagar bandara yang setinggi 1,5 meter. Tak lama kemudian, terdengar suara seperti benda keras yang jatuh," ujar Nardi.
Keterangan serupa dikemukakan oleh petugas kepolisian yang bertugas, Edi. Mengenai kronologis kejadian pesawat. Pihak Angkasa Pura I Andri Sukendri belum bisa dihubungi hingga saat ini. Dari pantauan TEMPO, kondisi pesawat yang menghunjam di sawah, berada di sebuah makam Desa Ngesrep Kecamatan Ngemplak Boyolali. Kondisi depan pesawat hancur, lambung tengah bagian pesawat patah, dan dua sayap pesawat patah.
Sampai saat ini nasib kapten pesawat Dwi M belum diketahui. Namun berdasar manifes penerbangan, pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT 0538 mengangkut 165 penumpang, yang terdiri atas 141 penumpang dewasa, 5 orang anak, dan 10 bayi.
Syaiful Amin/Imron Rosyid/Sohirin
Topik :






Komentar Anda :