Ulil Kecewa Sikap Kiai Sepuh NU yang Menolak JIL
Kamis, 02 Desember 2004 | 23:09 WIB
TEMPO Interaktif, Boyolali: Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla kecewa terhadap sikap beberapa kiai sepuh dilingkungan NU yang menolak JIL serta melarang aktivisnya masuk menjadi pengurus NU, maupun di badan otonomnya. ?Saya sedih, kenapa saya tidak diajak tabayyun. Padahal saya mondar-mandir di arena muktamar,? kata Ulil yang juga Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU, Kamis (2/12).
Padahal, dengan tabayyun katanya, diharapkan para kiai bisa menerima informasi tentang JIL secara utuh. Memang di sela-sela Muktamar NU ke-31 di Boyolali, 19 kiai sepuh membuat ?Ikrar Ulama Nahdlatul Ulama". Mereka antara lain KH Sahal Mahfudz, KH Mas Subadar, KH Muhaiminan, KH Masruri Mughni, dll. Dalam ikrar tersebut dinyatakan bahwa NU harus menolak cara berfikir liberal yang menyimpang dari tradisi ahlussunah wal jamaah. Meski dalam ikrar tersebut tidak dinyatakan secara tegas menolak JIL, menurut KH Masruri Mughni, pernyataan tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan yang muncul di arena muktamar terkait dengan JIL.
Uilil yang juga menantu KH Musthofa Bisri (Gus Mus) juga mengaku sedih, karena pola berfikir liberal dan ilmiah kalangan muda NU yang masuk dalam JIL, mestinya dijadikan sebagai asset NU, bukan dianggap sebagai ancaman. Karena dengan berfikir liberal dan ilmiah itulah, NU bisa menjadi organisasi Islam yang moderat.
Di arena muktamar NU, persoalan sikap NU terhadap JIL diserahkan kepada komisi tausiyah (rekomendasi). Dalam bidang agama, komisi ini merekomendasikan agar NU mengembangkan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dengan menekankan pada nilai-nilai tawasuth (moderasi), toleransi terhadap setiap komunitas, agama dan ekspresi pemikiran, berdasarkan prinsip kebenaran dan keadilan. Ajaran ahlussunnah wal jamaah tersebut harus tersusun dalam format yang aplikatif hingga mudah dipahami dan diamalkan.
Dengan prinsip-prinsip yang berbasis ahlussunnah wal jamaah, NU menolak segala bentuk fundamentalisme, ekstremisme, liberalisme dan aliran-aliran yang menyimpang. Berdasarkan prinsip ahlussunnah wal jamaah pula, penolakan tersebut dilakukan secara tegas, tetapi tetap persuasif dan dialogis.
Sohirin/Imron Rosyid?Tempo





