Sumarsih Mendapatkan Yap Thiam Hien Award 2004
Jum'at, 10 Desember 2004 | 20:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sumarsih, ibu Bernardius Realino Norma Irawan alias Wawan, korban tewas dalam Tragedi Semanggi I, tak kuasa menahan haru. Suaranya sempat terbata-bata. "Penghargaan ini memberi semangat bagi kami untuk terus memperjuangkan HAM," katanya, usai menerima Yap Thiam Hien Award 2004, di Musem Nasional, Jakarta, Jumat (10/12).
Sumarsih mendapatkan penghargaan ini setelah mengungguli empat nomine lainnya. Menurut Ketua Dewan Juri Yap Thiam Hien Award, Asmara Nababan, Sumarsih dinilai pantas menerimanya karena menjadi figur yang berhasil mengatasi kesedihannya menjadi kesadaran akan nilai kemanusiaan. "Awalnya, dia adalah korban, tapi kini juga menjadi aktivis HAM," kata Nababan.
Ditemui sebelum acara penganugerahan, Sumarsih mengaku sempat tak mau menerima penghargaan ini. "Saya ini bukan apa-apa. Aktivitas saya pun spontan dan banyak tak terencana," katanya. Karena itu, saat diberitahu panitia Yap Tiam Hien, Rabu pekan lalu, dia minta waktu untuk berfikir. Dia kemudian menyetujui menerima penghargaan, tiga hari kemudian. "Ini tak pantas untuk saya, tapi untuk Wawan, anak saya," kata wanita kelahiran Semarang, 1952 lalu ini
Wawan, kata Sumarsih, tewas tertembak peluru aparat keamanan, 13 November 1998 lalu. Waktu itu, dia bersama Tim Relawan untuk Kemanusiaan membantu mahasiswa yang tewas dan terluka saat melakukan aksi menolak Sidang Istimewa MPR. Dia menghembuskan nafas terakhir di sela-sela aktivitas kemanusiaannya, di halaman almamaternya, Universitas Atmajaya, Jakarta, akibat timah panas yang menembus dadanya.
Sumarsih akan tetap berjuang agar pelaku penembakan anaknya dibawa ke pengadilan. Itulah yang diharapkannya dari setiap peringatan hari HAM dan aktivitas yang selama ini dilakukannya bersama ibu dan orang tua korban Trisakti, Semanggi I, Semanggi II dan korban pelanggaran HAM lainnya. "Sampai seumur hidup saya," katanya, saat ditanya akan sampai kapan terus berusaha.
Yap Tiam Hien Award diberikan kepada orang-orang yang memiliki dedikasi terhadap penegakan HAM di Indonesia. Nama pengacara kawakan ini diabadikan sebagai penghargaan atas dedikasinya terhadap pengabdiannya pada tugas kemanusiaan. Penghargaan yang diselenggarakan Pusat Studi Hak Asasi Manusia ini mulai diberikan sejak 1992. Marsinah, buruh Sidoarjo Jawa Timur, yang dibunuh karena memperjuangkan hak-haknya, mendapatkan penghargaan ini 1993 lalu.
Di akhir acara, Dewan Pendiri Pusat Studi HAM, Todung Mulya Lubis, mengumumkan rencana pemberian Munir Couregeous Award, mulai tahun depan. "Award ini untuk mengenang, mengabadikan sekaligus menjadikan kiprah kerja Munir yang tanpa pamrih itu menjadi inspirasi buat banyak orang, terutama orang muda," kata Lubis.
Abdul Manan





