MMI Menilai Aksi Dr Azhari Menyudutkan Umat Islam

Jum'at, 17 Desember 2004 | 17:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menilai pengeboman yang dilakukan Azahari dan Noordin justru akan bersifat kontraproduktif. ?Karena akan menyudutkan aktivis muslim sendiri, sementara Indonesia bukan ladang jihad. Pembangunan opini publik inilah yang diinginkan oleh Amerika dan Australia,? ujar Ketua Departemen Data dan Indormasi MMI, Fauzan Al-Anshari, dalam jumpa pers pernyataan sikap MMI di Jakarta, Jumat (17/12) sore.

Menurut Fauzan, lembaganya menentang aksi pengeboman berdalil jihad karena tidak efektif dilakukan di Indonesia. ?Mungkin kalau di Afghanistan atau Irak iya,? katanya.
Fauzan juga berpendapat bahwa Amerika tidak akan berhenti memburu para aktivis muslim yang dinilai sebagai teroris karena Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Pasifik yang belum tunduk sepenuhnya kepada Amerika. ?Beda dengan negara Asia lainnya yang memang pro Amerika,? katanya.

Dalam jumpa pers itu, MMI menilai pernyataan pemerintah Australia soal ancaman bom di Hotel Hilton merupakan bentuk teror. Menurut Fauzan, seharusnya pemerintah Australia tidak menyampaikan secara langsung ke publik, namun diberitahukan terlebih dulu kepada kepolisian Indonesia. ?Karena itu, pernyataan Australia adalah bentuk dari teror itu sendiri,? ujarnya.

Dua hari lalu, pemerintah Australia menginformasikan tentang ancaman peledakan bom di Hotel Hilton yang ada di Indonesia menjelang Natal dan Tahun Baru. Informasi itu langsung menjadi pemberitaan media massa. Menurut Fauzan, pernyataan itu sangat tendensius dan berpotensi memfitnah umat Islam, karena sejak peledakan bom di Bali hingga hari ini yang dituduh sebagai teroris adalah Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dan aktivis muslim yang mayoritas pernah berjihad ke Afghanistan dan Moro, serta alumni pesantren Ngruki.

?Apalagi Dr. Azahari dan Noordin M. Top belum berhasil ditangkap. Sementara, Alex Manuputty, tersangka separatisme di Maluku dan puluhan koruptor kakap justru bebas kabur ke luar negeri,? kata Fauzan. Oleh karena itu, dia meminta pemerintah mematenkan definisi teroris.

Menurut Fauzan, ancaman teror bom merupakan bentuk konspirasi pemerintah Amerika Serikat dan Australia. Ia juga mengutip pernyataan Abu Ba'asyir tentang opininya mengenai teror bom Hilton ini. ?Ustadz Abu bilang ini hanya rekayasa Amerika dan Australia,? ujar Fauzan yang mengaku bertemu Ba'asyir Kamis (16/12) kemarin.

Kepada Kapolri, MMI pernah mengusulkan koalisi (pagar betis). Tujuannya untuk mengamankan tempat-tempat ibadah ketika hari-hari besar keagamaan. Koalisi ini terdiri atas aktivis muslim, aktivis gereja dan polisi sendiri. ?Usulannya sudah lama, tapi tidak direspon. Yang ada malah terbentuknya tim polisi yang tidak independen,? tambahnya.

Ami Afriatni?Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: