Polres Purwakarta Masih Tunggu Tim Antiteror

Sabtu, 18 Desember 2004 | 11:11 WIB

TEMPO Interaktif, Purwakarta: Polres Purwakarta masih menahan orang yang dicurigai sebagai komplotan Noor Din M Top, yang menggunakan sebuah Toyota Kijang. ?Kami masih menunggu kedatangan Detasemen 88 dari Mabes Polri dan Polda Jabar,? kata Kepala Polres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Polisi Zainul Arifin, Sabtu (18/12) pagi. Rencananya tim khusus antiteror itu akan tiba Sabtu pukul 12.00 WIB. Menurutnya, jika pemeriksaan oleh Detasemen 88 hasilnya nihil, orang tersebut akan segera dilepaskan.

Jumat petang (17/12), satu peleton personil Polres Purwakarta, Jawa Barat memang menangkap sekelompok orang yang dicurigai sebagai komplotan Noor Din M Top, yang menggunakan Toyota Kijang yang meluncur dari arah Bandung menuju Jakarta.

Penangkapan yang dipimpin langsung Zainul Arifin tersebut, dilakukan setelah pihaknya mendapatkan informasi dari jajaran Polwiltabes Kota Bandung, bahwa ada sebuah kendaraan Kijang warna biru membawa komplotan Noor Din M Top. ?Penangkapan kita lakukan di jalan raya Sukatani,? kata Zainul.

Selanjutnya, rombongan yang berjumlah empat orang tersebut dibawa ke Mapolres Purwakarta, yang berjarak 10 kilometer dari lokasi penangkapan. Ketika diperiksa, satu dari penumpang Kijang tersebut bernama M Razid bin M Top, 41 tahun, berkewarganegaraan Singapura. Dua lainnya yakni M Alif Bin Razid, 12 tahun (anak Razid) dan M Nashrul bin Jaffar ,17 tahun keponakan Razid keduanya warga negara Singapura. Sedangkan satunya lagi sopir Kijang bernama Dody Ismail Januar,35 tahun, warga Jakarta.

Setelah dilakukan pemeriksaan secara fisik, data diri, paspor dan visa, kata Zanul melanjutkan, diyakini bahwa yang bersangkutan bukanlah Noor Din M Top, peracik bom nomor wahid warga negara Malaysia, yang paling dicari-cari oleh kepolisian Indonesia. ?Saya yakin dia bukan Noor Din M Top,? katanya. Zainul melarang wartawan untuk mewawancari M Razid M Top, apalagi mengambil gambarnya.

Zainul menjelaskan ada tiga alasan kenapa penangkapan itu dilakukan. Pertama, ada kesamaan nama antara yang bersangkutan dengan buron peledakan bom Kuningan, yang bersangkutan menunda jadwal penerbangannya ke Singapura yang mestinya dilakukan Sabtu lalu ditunda jadi Ahad. Ketiga, berdasarkan kecurigaan adanya keterkaitan dengan kasus penemuan sembilan bahan peledak yang ditemukan di dalam bis Mekar Raya di Bandung, Sabtu siang (17/12). ?Saat diperiksa Razid menyadari alasan-alasan itu, dia juga sangat kooperatif,? katanya.

Nanang Sutisna?Tempo






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: