"Posisi Ketua Komisi HAM PBB Bukan Bumerang"

Senin, 20 Desember 2004 | 17:07 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur HAM Departemen Luar Negeri I Gusti Agung Wesaka Puja tak sepakat dengan kekhawatiran sejumlah kalangan yang menyebut jika diplomat senior Indonesia, Makarim Wibisono, nantinya terpilih sebagai Ketua Komisi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa, akan menjadi bumerang bagi Indonesia. Dia menyadari, kekhawatiran itu muncul karena belum jelasnya penyelesaian kasus HAM, termasuk pembunuhan aktivis HAM Munir.

Dia pun lalu memberi contoh. "Tampilnya Lybia sebagai ketua Komisi HAM dua tahun
lalu pernah diragukan Barat (karena dugaan pelanggaran HAM berat di negerinya sendiri). Tetapi Duta Besar Najeb (yang menjadi Ketua Komisi HAM) bisa menjalankan tugasnya dengan baik," ujarnya usai lokakarya nasional "Peran Sektor Bisnis Dalam Pemajuan dan Perlindungan HAM di Indonesia", Senin (20/12,) di Hotel Borobudur, Jakarta.

Pemilihan Ketua Komisi HAM mempunyai kebiasaan (peraturan tidak tertulis) secara bergilir berdasarkan wilayah regional. "Sekarang ini jatahnya kelompok Asia, dan mereka sudah sepakat untuk mengajukan Indonesia," ujarnya. Dia menduga, negara-negara Asia
mungkin menilai Indonesia mempunyai catatan yang cukup baik dalam pemajuan dan perlindungan HAM.

Wesaka menjelaskan, jika Makarim terpilih, pada satu sisi Indonesia akan menghadapi tantangan dari dunia yang mengharapkan negeri ini mampu memberikan keseimbangan soal tuntutan HAM antara negara maju dan negara berkembang. "Di sisi lain, terpilihnya Makarim dapat memberikan sumbangan berarti untuk masalah penanganan HAM di
Indonesia," katanya.

Evy Flamboyant






Komentar Anda

Kirim