Masih 38 Juta Orang Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

Kamis, 23 Desember 2004 | 13:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Penanggulangan kemiskinan di Indonesia tidak mencapai target yang direncanakan.“Sampai saat ini masih terdapat 38 juta lebih penududuk yang berada di bawah garis kemiskinan,” kata Bambang Ismawan, Sekretaris Jenderal Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro.

Dalam temu nasional Komite Penanggulangan Kemiskinan 2004 yang berlangsung tiga hari sejak 20 Desember 2004 dan berakhir pada Kamis (23/12) ini, terungkap bahwa pemerintah menargetkan angka kemiskinan turun hingga 14 persen pada tahun 2004, namun baru tercapai 17 persen. Lebih buruk lagi, jumlah pengangguran sekitar 40 juta orang, 10 juta diantaranya adalah penganggur terbuka.

Jumlah angkatan kerja baru (sejak tahun 2002) meningkat 2 juta orang pertahun, sedangkan daya serap lapangan kerja sektor formal 0,8 juta orang. “Artinya 1,2 juta tenaga kerja penganggur,”katanya. Menurut Bambang, tidak tercapainya target angka 14 persen bukan berarti tugas pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan
gagal. “Pemerintah tidak sendirian karena penanggulangan kemiskinan hanya akan efektif jika dilaksanakan secara bersama antara pemerintah, perbankan, swasta, dan masyarakat (LSM),” ujarnya.

Kemiskinan, menurut aktivis LSM Bina Swadaya itu, bisa disebabkan dari dalam, kelemahan masyarakat sendiri maupun faktor dari luar, biasanya keduanya saling terkait. “Sebuah penelitian mengatakan makin lama orang bergumul dalam kemiskinan, makin sulit orang itu keluar dari kemiskinan,” ujarnya.

Orang miskin bukanlah the have not mereka adalah the have little, dan ini terjadi karena tidak terbuka lebarnya akses mereka kepada lapangan kerja yang layak. "Mereka bukanlah penganggur, karena mereka harus tetap bekerja agar tetap bisa hidup,"kata Bambang.

Produktivitas orang miskin sangat rendah dan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan dasar. "Akibat rendahnya pendapatan, gizi kurang sehingga mudah sakit dan pendidikan rendah, maka mobilitas vertikal sulit terjadi, sehingga tetap terjebak dalam kemiskinan,” kata Bambang yang juga koordinator kelompok kerja KPK bidang pendampingan.

Agus Supriyanto

TOPIK






Komentar Anda

Kirim