Jusuf Kalla: Koalisi Kebangsaan Sudah Selesai

Jum'at, 24 Desember 2004 | 18:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dengan selesainya pemilihan presiden, keberadaan Koalisi Kebangsaan secara otomatis kehilangan relevansinya. Pasalnya, menurut Ketua Umum Partai Golkar M. Jusuf Kalla, dukungan Golkar terhadap Koalisi Kebangsaan dimaksudkan untuk memenangkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi menjadi presiden dan wakil presiden.

?Itu sudah selesai. Jadi sekarang sudah tidak ada urgensinya lagi,? kata Kalla kepada wartawan di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (24/12). Namun dia menolak apabila dengan keputusan itu, dikatakan Golkar telah melanggar komitmen awal pembentukan koalisi. ?Politik itu selalu dinamis,? sanggahnya. Dia mengatakan, ada kepentingan-kepentingan partai lainnya yang harus dipertimbangkan dalam membentuk koalisi. ?(Koalisi) tidak bisa dipaksakan,? tambahnya.

Koalisi Kebangsaan ditulangpunggungi empat partai, yaitu PDI Perjuangan, Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Damai Sejahtera. Beberapa partai kecil lainnya kemudian turut bergabung, diantaranya Partai Karya Peduli Bangsa dan Partai Bintang Reformasi. Ketua Umum Golkar waktu itu, Akbar Tanjung, mengatakan koalisi ini tidak hanya akan berlanjut hingga pemilihan presiden berakhir, namun akan terus dipertahankan secara permanen di parlemen.

Perpecahan mulai terjadi setelah pemilihan presiden usai. Dalam pemilihan pimpinan DPR, PPP memutuskan keluar barisan dan bersama partai lain seperti Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Amanat Nasional menggalang Koalisi Kerakyatan.

Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan kerja sama dengan partai lain akan dilanjutkan, termasuk dengan PDI Perjuangan. Kalla menjelaskan kerjasama ini tidak lagi dalam bentuk blok politik, tapi kerjasama kasus per kasus. Misalnya dalam menyikapi anggaran pemerintah.

Golkar, kata Kalla, tetap akan menempatkan diri sebagai partai yang kritis terhadap pemerintah. ?Tapi harus obyektif dan proporsional. Kalau pantas dikritik ya dikritik, kalau pantas didukung ya didukung. Tidak all out membabi buta. Kalau PDIP bisa seperti itu, tentu hubungan PDIP dengan Golkar dapat berjalan baik,? katanya.

Sapto P/Fanny Febiana?Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: