Jenazah Sulastri Dimakamkan
Sabtu, 25 Desember 2004 | 19:28 WIB
TEMPO Interaktif, Madiun:Jenasah Sulastri, buruh migran yang meninggal di Singapura beberapa hari yang lalu, dimakamkan di pemakaman umum Desa Wungu, Kecamatan Wungu, Madiun, Sabtu (25/12) ini. Jenazah perempuan kelahiran Madiun 1985 ini, tiba di rumah duka di RT 09/01, Dusun Kresek, Desa Wungu Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun pada hari ini juga sekitar pukul 14.30.
Sebelum tiba, Jenazah Sulastri diterbangkan dari Singapura dengan pesawat udara Silk Air dengan nomor penerbangan Mi 212 menuju Bandara Adi Sumarmo Solo. Pesawat tiba di bandara Adi Sumarmo pada pukul 11.00, dan pada pukul 13.00 dibawa ke Madiun.
Setiba di rumah duga, suasana haru langsung menyelimuti para pelayat yang memadati halaman rumah orang tua Sulastri, pasangan Supardi dan Tariyem. Gema takbir kontan menggema saat jenasah yang dibawa dengan mengendarai mobil ambulans tiba di halaman rumah. Puluhan pelayat siang itu, dengan serta merta berdiri dari tempat duduk dan mendekati peti jenasah.
Tarinem tidak bisa menahan tangis ketika peti jenasah anak nomer limanya tersebut dibawa ke ruang tengah rumahnya. “Lastri, nduk kowe kok ndisi’i aku (Anakku, kamu kok mendahului saya),” katanya.
Setiba dirumah duka, jenasah diserahkan rombongan yang pengantar yang dipimpin Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Madiun Edy Sasongko, didampingi Sumilan dari Perusahaan Jasa Tenaga Kerja PT Tenaga Sejahtera Wirasta.
Setelah disholatkan dan diadakan upacara pelepasan. Jenasah Sulastri kemudian dimakamkan tepat pukul 15.00.
Selain menyerahan mayat Sulastri kepada keluarganya, Edy menyerahkan sisa gaji Sulastri sebesar 990 dolar Singapura (sekitar Rp 4,9 juta), serta uang donasi sebagai uang duka dari majikan sebesar 50 dolar Singapura (Rp 250 ribu), dan uang donasi dari agen Singapura 200 dolar Singapura (Rp. 1 juta)
Keluarga Sulastri juga mendapatkan santunan dari agen Indonesia sebesar Rp 3 juta, serta uang asuransi sebesar Rp 6 juta. Untuk uang santunan Rp 3 juta, hanya diberikan Rp 1,5 juta, karena sisanya sudah diberikan pada Rabu (22/12), bersamaan dengan pemberitahuan kematian Sulastri.
Tentang kematian Sulastri sendiri, Hendrik Wahyu Wijaya, Koordinator Tim Pembela Buruh Migran (Kopbumi) Jatim, mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan. Pihaknya curiga Sulastri mati tidak bunuh diri. “Sepanjang sejarah, tidak akan ada TKI yang mati bunuh diri. Kecuali karena ada tekanan psikoligis yang dilakukan oleh majikannya,” ujarnya.
Hasil visum Sulastri, menurutnya, sampai saat ini belum bisa diketaui. “Jadi sampai saat ini kami belum bisa memastikan penyebab jatuhnya Sulastri dari lantai 23 apartemen di Singapura itu,” ujarnya.
Rohman Taufiq




Komentar Anda :