Banda Aceh Mulai Berbenah
Selasa, 28 Desember 2004 | 09:40 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Ibukota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai hari ketiga pasca musibah gempa dan bencana tsunami mulai berbenah diri. Sejumlah korban yang memerlukan perawatan serius akan dievakuasi ke Medan, Sumatera Utara, dengan angkutan udara.
Dari pemantauan Tempo, sampai hari ini, Selasa (28/12) jaringan telekomunikasi sudah berjalan meski sangat terbatas. Jaringan telepon reach line masih belum berfungsi. Sedangkan jaringan telepon seluler sudah berfungsi, meskipun hanya untuk pesan pendek. Satu-satunya alat komunikasi keluar kawasan tersebut adalah dengan telepon satelit.
Masyarakat Banda Aceh sendiri masih terlihat sibuk mencari keluarga mereka yang hilang akibat tersapu ombak. Mereka berjalan dan mencari ke rumah-rumah sakit tempat penampungan jenazah.
Menurut Wakil Kepala Kesehatan Kodam (Wakakesdam) Iskandar Muda, Letkol TNI Angkatan Darat Dr. Alexander, sampai saat ini di Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda menampung ratusan pasien akibat terjangan ombak yang terjadi Minggu lalu. "Obat-obatan masih sangat terbatas. Semuanya masih berasal dari logistik TNI," katanya, Selasa (28/12) di Banda Aceh.
Namun, ia mengatakan, jumlah obat-obatan dan tenaga medis masih cukup memadai. Tetapi, ia mengeluhkan, kurangnya bahan makanan bagi para korban musibah tersebut. "Kami butuh makanan terutama susu bagi anak-anak," kata Edi Blang Pinang.
Sementara itu, Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda belum mampu menampung banyaknya korban. Kondisi korban menderita patah tulang, luka sobekan, dan menelan lumpur masih mengenaskan. Mereka ditampung di lorong-lorong rumah sakit sampai ke halaman.
Jenazah-jenazah mulai mengeluarkan bau menyengat dan masih tergeletak di halaman kamar jenazah rumah sakit tersebut. Kemarin, sebagian jenazah sudah dikuburkan massal di daerah Blang Bintang dan Lambaro.
Sementara itu, kondisi jalan-jalan di Banda Aceh belum sepenuhnya dibersihkan dari tumpukan sampah dan jenazah. Di jalan PP Panglima Polim, bangkai-bangkai kayu dan sejumlah jenazah yang mulai membusuk belum dievakuasi.
Edy Can





