Meulaboh Mungkin Masih Terisolir
Selasa, 28 Desember 2004 | 11:50 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Keluarga korban bencana gempa dan gelombang pasang tsunami Nanggroe Aceh Darussalam meminta pemerintah menjenguk wilayah Meulaboh. Pasalnya, mereka belum tahu sama sekali kondisi keluarga mereka di Meulaboh, karena wilayah tersebut terisolir.
Teuku Ahmad Dalin, 40 tahun, warga asli Meulaboh yang kini bermukim di Yogyakarta mengaku kebingungan dengan kondisi seluruh keluarganya di Meulaboh, Aceh.
Meulaboh yang terletak 250 kilometer dari kota Banda Aceh, sebuah kota pesisir pantai Samudera Hindia, belum jelas kondisinya. Dalin mengaku sudah tiga hari ini tidak mengetahui kondisi keluarganya. Semua kontak telepon putus sejak Minggu (26/12), saat kejadian bencana itu. "Saya sudah putus asa. Tolong kalau Anda punya telepon satelit segera hubungi saya. Untuk mengetahui apakah Meulaboh hancur, apakah rata dengan tanah," kata Dalin yang menghubungi Tempo dari Yogyakarta, Selasa pagi, (28/12).
"Mengapa pemerintah lambat sekali. Sebenarnya satu helikopter milik TNI turun dan menengok lalu mengabarkan kondisi yang sebenarnya sudah cukup buat saya," ujar Dalin. "Saya dengar akses menuju ke sana putus, jadi saya urungkan niat," ujar ayah dari dua anak yang beristrikan orang Yogyakarta ini. Mengaku telah meninggalkan Meulaboh sejak 20 tahun silam, pria bertubuh kecil ini resmi bermukim di Yogyakarta. Dia menjadi wiraswata setelah menyelesaikan pendidikan S2 nya di Universitas Gajah Mada.
Kepada Tempo Dalin bercerita rumah ibunya dan empat orang adiknya hanya berjarak 150 meter dari pantai. Salah satu adiknya bahkan menjadi camat di salah satu wilayah Meulaboh. "Kami sudah biasa mengalami bencana, karena keluarga kami di pinggir pantai, kami justru terbiasa dan siap menghadapi bencana. Ini berbeda dengan Banda Aceh," tutur Dalin.
Bernada Rurit





