Pemerintah Diminta Kirim Pesawat ke Kepulauan Aceh

Selasa, 28 Desember 2004 | 12:18 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya: Direktur Peduli Indonesia, Syafruddin Ngulma meminta pemerintah segera mengirim tim lewat pesawat udara untuk mendeteksi keberadaan penduduk di pulau-pulau kecil pantai barat Aceh dan Sumatera Utara. ?Sampai sekarang belum diketahui keberadaan penduduk di pulau-pulau tersebut,? kata Syafruddin kepada Tempo, Selasa (28/12).

Menurut Syafruddin, salah satu pulau di pantai barat Aceh adalah Pulau Simeulue yang terletak sekitar 120 mil dari kota Meulaboh, Aceh. Pulau tersebut mempunyai luas 180.000 hektare dan dihuni sekitar 200 pendudu dengan ibu kota Sinabang. Kepulauan ini berada di dataran rendah dan umumnya penduduk tinggal di pinggir pantai.

Menurut Syafruddin, saat ini warga Aceh asal Simeulue kehilangan kontak karena telpon terputus. Dia mengakui, hampir semua saudaranya tinggal di pulau ini dan belum mengetahui kabarnya. ?Warga Pulau Simeulue yang tinggal di Padang dan Medan hanya bisa menangis,? kata Syafruddin yang kini tinggal di Mojokerto, Jawa Timur.

Karena itu, dia berharap pemerintah segera mengirimkan sebuah tim lewat pesawat udara untuk memetakan kondisi pulau-pulau di Aceh, termasuk Pulau Simeulue. ?Dengan cara itu bisa diketahui apakah pulau Simelue masih ada atau tidak,? kata Syafruddin. Memang, dari pengalaman Tempo meliput bencana Tsunami di Pulau Frores tahun l992 menunjukkan korban paling besar adalah penduduk yang tinggal di pantai. Salah satu korban terbesar gelombang Tusnami di Flores ketika itu adalah penduduk di Pulau Babi, NTT. Saat itu hampir semua penduduk dan hewan ternak di pulau tersebut disapu habis gelombang laut. Mereka yang beruntung dan masih hidup adalah para nelayan yang tinggal di laut karena meski dihempas gelombang tetapi mereka bisa selamat.

Keberadaan Pulau Babi baru diketahui setelah tiga hari bencana dengan cara mengirimkan tim gabungan dari kesatuan Kodam Udayana yang naik kapal cepat. Saat tiba di lokasi, semua rumah sudah luluh lantak dan bangkai manusia dan ternak tersangkut di bukit pulau ini. Sejumlah tentara dan wartawan terpaksa mengolesi hidung dengan bubuk kopi untuk menghalau bau anyir bangkai.

Zed Abidien?Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: