|
Nasional
Posko Utama Medan Semrawut
Selasa, 28 Desember 2004 | 01:13 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sistem kinerja yang dibangun pada Posko Bencana Alam Nasional untuk Aceh dan Sumatera Utara yang terletak di Lapangan Udara TNI AU Bandara Polonia Medan sangat lamban. Terutama dalam pengelolahan data mengenai jumlah korban maupun jumlah bantuan yang datang. Bahkan kordinasi dalam penyaluran bantuan pun tampak saling kontradiksi dan saling melempar tanggungjawab.
Dari pagi hingga Selasa malam, 28/12 data jumlah
korban baik di Aceh maupun di Sumatera Utara tidak
beranjak, tetap berkisar 4057 orang tewas untuk
wilayah Aceh dan 50 orang tewas serta 76 orang hilang
untuk wilayah Sumatera Utara. Hanya malam hari usai
SBY podato disebutkan data, itu pun hanya data
evakuasi.
Wakil Presiden Yusuf Kalla yang datang pada
siang harinya sudah berani mengklaim jumlah korban
yang jatuh untuk wilayah Aceh mencapai 20 ribu hingga
25 ribu orang meninggal dunia. \" Ini bila dilihat dari
intensitas kerusakan daerah tersebut \" ucap Yusuf
Kalla dalam konferensi persnya yang
di dampingi oleh Gubernur Sumatera Utara, T.Rizal
Nurdin dan Menteri Dalam Negeri M. Maaruf usai
meninjau dari udara kerusakan di wilayah pantai barat
akibat bencana alam badai Tsunami.
Edi Sofian Humas Pemerintah Sumatera Utara yang juga
humas Posko Bencana Alam di Medan ketika dihubungi
Tempo perihal tidak ada data penambahan jumlah korban
hingga malam hanya mengatakan pihaknya tidak berwenang
mengeluarkan data sebelum mendapat informasi dari
satuan tugas yang berada di Aceh.
Begitu juga dengan data mengenai jumlah batuan yang
sudah diterima oleh posko Bencana di Medan. Hingga
malam hari, jumlah data penerimaan bantuan hanya per
Selasa jam 12.00. Padahal dari siang hingga sore
barang begitu banyak yang masuk ke Posko bencana.
Begitu juga ketika malamnya beberapa wartawan meminta
informasi mengenai jumlah bantuan dari Luar Negeri
yang diterima posko bencana di Medan. Padahal
berdasarkan pantauan Tempo sudah ada 2 bantuan
Hercules dari pemerintah Malaysia. Namun posko tidak
bisa menjelaskan berapa jumlah dan jenis bantuan. "Saya belum tahu pasti jumlah dan negara mana saja yang
sudah nyumbang, datanya masih diolah staf saya,"ucap
Edi Sofyan pada Selasa Malam. Edi Sofian menjelaskan
hanya mengetahui jumlah bantuan uang sebesar Rp 2 M
dari pemerintah Australia.
Ketertutupan akses ini tentunya menyulitkan para wartawan yang hendak meliput informasi tentang perkembangan data korban dan data penerima bantuan dari negara Asing. Salah seorang wartawan, Bahri dari Radio 68H merasa kecewa karena tidak kunjung menerima data baru dan tidak ada pihak yang dikonfirmasi mengenai hal ini.
Begitu juga mengenai jumlah pengungsi Aceh yang datang
ke Medan untuk menyelamatkan diri. Tidak tampak
petugas yang datang untuk mendata kedatangan mereka.
Hanya terlihat panitia kesehatan yang hanya mendata
jumlah korban yang dilarikan ke rumah sakit rujukan.
Padahal jumlah pengunsi yang datang hingga ratusan
orang dan terkesan dibiarkan. Sambil menunggu
kedatangan sanak saudaranya, banyak diantaranya penduduk
halaman rumput sekitar kantin di dekat lapangan udara.
Bahkan dengan nada heran di depan wartawan dan sat
ditanya Detik.com, Kepala Dinas Sosial Pemprop Sumatra
Utara, Silvester Lase merasa heran dan tidak
mengetahui kedatangan pengungsi. "Memang ada pengungsi
datang,"katanya kaget.
Padahal pengungsi sudah teronggok di lapangan vip bandara TNI-AU Kelapa Sawit Polonia Medan tanpa dipedulikan. Kesemerawutan kinerja posko juga menimpa parasukarelawan dari kalangan mahasiswa dan pencinta alam
yang hendak diberangkatan ke Aceh. Hingga tengah
Malam, beberapa sukarelawan mahasiswa dari ITM
mendatangi panitia meminta kejelasan waktu
keberangkatan mereka. "Kami sudah menunggu dari pagi,
kapan sebenarnya kami diberangkatkan,"tanya salah
seorang mahasiswa.
Bahkan puluhan relawan duduk terbengong-bengong menunggu ketidakpastian. Semula mereka akan diberangkatkan dengan bantua logistik ke Aceh via udara, tapi akhirnya malam ini mereka menumpang truk jalan darat ke Aceh.
Dari pantauan Tempo pada hari itu juga, Gubernur
Sumatera Utara T Rizal Nurdin sempat memarahi Kepala
Dinas Perhubungan Sumatera Farhan Tanjung. "Kau pun
lamban kali kerjanya,"ujar Rizal Nurdin. Memang hari itu Gubernur Sumatra Utara tampak panik dan gelisah menunggu kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari
Banda Aceh.
Bantuan yang mengalir dari berbagai lapisan masyarakat tetap teronggok di hanggar dan banyak sekali antrian menunggu di sekitar kompleks hingga malam hari ini.
Hambali Batubara, Bambang Soed
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Menteri Negera Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Susilo Bambang Yudhoyono bersalaman dengan koordianator Tim Advokasi Peduli Beban Rakyat, Hotman Paris Hutapea yang akan menyampaikan ketidaksetujuan Tim Advokasi Peduli Beban Rakyat atas kerja sama pemerintah dengan IMF yang terlalu banyak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia sehubungan dengan somasi yang telah dilayangkan kepada IMF di kantor Menko Polkam, Jakarta, 30 Januari 2003. [TEMPO/ Purwanta BS; K12A/077/2003; 20030219].](/hg/photostock/2004/12/22/s_K12A07704_high_thumb.jpg) |
![Cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid alias Cak Nur (kanan) didampingi calon presiden dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY (kiri), dalam konferensi pers seusai melakukan pertemuan empat mata di kediaman Cak Nur di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis, 6 Mei 2004. [TEMPO/Usman Iskandar; K21A/204/2004; 20040507].](/hg/photostock/2004/12/17/s_K21A20602_high_thumb.jpg) |
| Susilo Bambang Yudhoyono dan Hotman Paris Hutapea
|
|
| Nurcholish Madjid dan Susilo Bambang Yudhoyono
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|