Baru Lima Ribu Jenazah Terevakuasi
Kamis, 30 Desember 2004 | 20:04 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Palang Merah Indonesia (PMI) Banda Aceh mengatakan hingga hari kelima pasca gempa dan tsunami, baru sekitar 5.000 mayat yang dikuburkan dari puluhan ribu mayat yang bergelimpangan di Aceh. Ia memperkirakan saat ini ada sekitar 30 ribu mayat yang sudah membusuk.
Ketua PMI Banda Aceh Sanusi Maha mengatakan kendala evakuasi mayat itu disebabkan beberapa faktor seperti kurangnya sumber daya manusia, peralatan dan banyaknya jumlah korban tewas. Jumlah petugas sampai saat ini, menurutnya masih sekitar 300 orang relawan yang berasal dari Aceh Utara, Aceh Timur dan Sumatera Selatan. "Banyak penduduk lokal yang tidak mau mengevakuasi mayat karena takut dan kondisi mayatn yang sudah membusuk," kata Sanusi Maha di banda Aceh, Kamis (30/12).
Idealnya menuruit Sanusi, jumlah tenaga yang dibutuhkan adalah tiga ribu relawan. Dengan jumlah sekitar itu, lanjutnya, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menguburkan jenzah. Dengan kondisi seperti sekarang ini, membusuknya mayat tidak terelakkan. "Apa boleh buat," katanya.
Para relawan pun terpaksa menggunakan mobil-mobil boks untuk mengangkat jenazah yang berada di pinggir jalan. Beberapa petugas pun terpaksa mengangkat mayat tanpa menggunakan masker dan sarung tangan. Sampai saat ini penguburan massal masih dilakukan di Lambaru, wilayah barat Aceh di Sekitar Ajun dan Kecamatan Baitu Salam.
Daerah-daerah yang masih banyak mayatnya seperti di Taunayung, Pante Tirak, Lhoknga, Ulele dan Kreung. Mayat-mayat dalam kondisi mengangkang, gembung, terbungkus-terbungkus dan menyebarkan bau menyengat. Sebagian lagi tertimpa kayu, beton, besi dan sampah.
Di Ulele sedikitnya terdapat 30 desa yang jumlah setiap desa sekitar 700 orang penduduk. Lokasi itu merupakan yang sampai saat ini masih tertutup dan paling parah diterjang badai air. Kini daerah pesisir bekas rumah penduduk itu berubah seperti rawa-rawa yang dipenuhi lumpur. Satu-satunya jalan yang bisa dilalui hanya dengan berjalan kaki. Ranji, 29 tahun, salah satu korban mengatakan saat ini banyak mayat yang telah membusuk.
Menurut Budi A. Putero, Ketua Posko Penangan Bancana Gempa dan Tsunami diperlukan setidaknya 150 alat besar untuk membersihkan mayat-mayat dalam tempo sebulan. Namun, kendalanya sekarang ini menurutnya jumlah operator yang dapat mengendalikan alat-alat seperti geko dan buldozer sangat terbatas.
Perkembangan terakhir jumlah yang meninggal korban bencana gempa dan tsunami lebih dari 43 ribu di Aceh. Tepatnya 43.672 dan 3195 orang hilang. "Jumlah ini meningkat dua kali lipat setelah melihat hasi l di lapangan," kata Azwar Abu Bakar, Wakil Gubernur NAD.
Sementara itu bantuan untuk korban terus mengalir. Bandara Polonia Medan terpaksa mengalihkan sebagian bantuan menuju Banda Aceh yang transit ke Aceh menuju ke Batam. Pengalihan itu menurut Budi untuk membantu kelancaran penyaluran bantuan ke Banda Aceh. "Bantuan yang terbanyak adalah makanan, obat-obatan dan tenaga medis," katanya.
Data Korban Tewas
Banda Aceh, tewas 15.000
Aceh Besar, tewas 14.000
Klueng Raya, tewas 3.000
Pulau Aceh, tewas 4.000
Sabang tewas 12
Pidi tewas 574
Bireun tewas 594
Aceh Utara tewas 1197
Lhoksumawe tewas 76, dan 10 hilang
Aceh Timur, tewas 224
Aceh Jaya , tewas 10.500
Aceh Barat tewas 855, dan 3011 hilang
Aceh Barat Daya, tewas 500
Aceh Selatan, tewas 6
Semelu - Singkal, tewas 4
Edy Can





