Pantai Selatan Jawa Barat Aman Tsunami
Kamis, 30 Desember 2004 | 20:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Peneliti tsunami dari Institut Teknologi Bandung, Dr Hamzah Latief mengatakan, pantai selatan Jawa Barat sebagai black zone. Istilah yang merujuk kepada kondisi di sepanjang garis pantai yang belum pernah mengalami bencana tsunami.
"Sejak Tahun 1600, mulai dari ujung Genteng, Sukabumi, belum pernah ada tsunami," kata Staf Pengajar Departemen Geofisika dan Meteorologi ITB, ketika dihubungi Tempo per telepon Rabu (30/12). Maka Hamzah menyayangkan beredarnya informasi yang memprediksi akan ada tsunami dalam 2 minggu mendatang di Pantai Selatan Jawa Barat.
Berdasarkan catatan tsunami yang dikumpulkan Hamzah, hanya dua kali terjadi peristiwa tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa. Peristiwa pertama terjadi 20 Oktober 1859. Tapi tidak ada catatan pelengkap mengenai peristiwa itu. Selain itu, hasil observasi di Pacitan, Jawa Timur, menyebutkan pernah terjadi tsunami di sana. Selanjutnya, di Banyuwangi, Jawa Timur, Tanggal 2 Juni 1994 terjadi tsunami akibat gempa berkekuatan 7,2 Magnitudo. Gelombang tsunami di sana tingginya mencapai 19,1 meter dan menewaskan 238 jiwa dan 400 lainnya luka-luka.
Hamzah tidak menyangkal, potensi tsunami ada di sepanjang garis pantai di seluruh Indonesia. "Yang membedakan intensitasnya," katanya. Tapi, khusus untuk garis pantai di selatan Jawa Barat hingga Jawa Tengah belum pernah ditemukan catatan sejarah yang menunjukkan terjadinya tsunami di sana. Apalagi, kata Hamzah, sepanjang garis pantai selatan Jawa Barat terdapat palung yang sangat dalam. "Penujamannya terlalu dalam, sehingga kecil kemungkinan gempa di sana akan menyebabkan tsunami," katanya.
Hamzah sendiri mengumpulkan catatan tsunami yang pernah terjadi di Indonesia sejak 1600-an. Data peristiwa tsunami yang dikumpulkannya menyebutkan, sepanjang periode itu telah terjadi 105 kali tsunami di Indonesia. Dari data itu, 95 tsunami disebabkan oleh gempa bumi, 9 kejadian disebabkan letusan gunung berapi, dan hanya 1 kali tsunami disebabkan tanah longsor.
Seluruh kejadian tsunami sejak 1600-1998 menyebabkan 54.147 jiwa melayang. Korban tsunami terbesar terjadi akibat letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 26 Agustus 1883. Dalam catatan Hamzah korban tewas mencapai 36 ribu jiwa. Tsunami yang terjadi kala itu tingginya mencapai 36 meter. Selanjutanya, tsunami yang terjadi di Bali pada 27 September 1811 memakan korban 10.253 jiwa tewas.
Menurut Hamzah, tidak sembarang gempa bisa menyebabkan tsunami. Tsunami hanya dihasilkan oleh gempa bumi yang mempunyai tipe perubahan vertikal, yakni gempa yang disebabkan naik atau turun permukaan dasar laut secara tiba-tiba. Gempa tersebut, kata Hamzah, umumnya merupakan gempa dangkal yang sumbernya mempunyai kedalaman lebih kecil dari 40 km dengan kekuatan lebih besar dari 6 Magnitudo.
Peneliti ITB yang mengambil gelar Doktor bidang tsunami di Tohoku University, Jepang, itu menyayangkan reaksi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat yang dinilainya berlebihan atas kekhawatiran tersebut. "Kenapa langsung di follow up tanpa mengecek kebenarannya dulu," katanya.
Ahmad Fikri





