|
Nasional
Menko Kesra Pegang Komando Pemerintahan di Aceh
Sabtu, 01 Januari 2005 | 11:32 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Alwi Shihab mulai hari ini (Sabtu, 1/1) akan mengordinir operasional pemerintahan di Nanggroe Aceh Aceh Darussalam yang dipusatkan di Banda Aceh.
Alwi akan bahu membahu dengan Kepla Staf Angkatan Darat (Kasad) TNI, Polri dan staf Bakornas untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. “Bukan mengambil alih, tapi agar koordinasi bantuan lebih baik dan kebijakan bisa diambil secepatnya, tidak perlu menunggu keputusan dari Jakarta,”ujar Alwi.
Selain Alwi, Menteri Sosial Bachtiar Chamsah ditugaskan di Meulaboh. Dan tiga menteri lain, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Kesehatan, Menteri Perhubungan akan datang bergantian dan akan berada di Aceh, selain para Dirjen dan pejabat Eselon II dari tiap departemen. “Semuanya dilakukan untuk membantu kelancaran dan menanggulangi musibah Aceh,” kata Alwi.
Semua meteri dan para dirjen yang bertugas ini akan berada dibawah kendali Alwi. “Termasuk dua Dirjen Depdagri yang sebelumnya ditugaskan untuk menstabilkan roda pemerintahan,”ujar Alwi. Untuk mengisi kekosongan pemerintahan, menurut Alwi, Depdagri juga akan menurunkan 200 orang staf Depdagri ke Aceh.
Untuk Aceh sendiri, menurut Alwi, saat ini pemerintah berkonsentrasi kepada pengiriman alat-alat berat untuk mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan akibat jalan darat di Meulaboh lumpuh total. Selama ini walaupun bantuan sampai di Meulaboh, kapal hanya bisa bersandar 750 meter dari dermaga. “Sehingga distribusi terhambat karena harus menggunakan sekoci,” kata Alwi. “Alat-alat berat sudah ada pada hari ke-2 tapi tidak ada operator, sehingga harus didatangkan,” katanya.
Alwi mengatakan bahwa masih banyak daerah-daerah yang diluar jangkauan jalan darat. Sehingga hanya bisa dicapai lewat udara. Untuk itu, dalam waktu dekat dua pesawat Herkules akan dikerhakan membantu empat yang sudah ada sebelumnya. Sementara itu, Departemen Pekerjaan Umum dan Meneg BUMN akan mengirimkan sepeda motor untuk mobilitas di darat.
Khusus untuk Meulaboh, Sejak Jumat (31/12) kemarin, bandara di kota pantai ini sudah bisa didarati. Bantuan makanan dan obat-obatan juga sudah tiba sejak Kamis (30/12) hingga Jumat. “Dibutuhkan helikopter yang bisa mengirim bantuan, namun kekurangan pesawat udara dalam waktu dekat akan diatasi karena datang bantuan dari Malaysia, Singapura, dan Australia,”ujarnya.
Selain itu, telah didirikan 4 field hospital dan akan menyusul tiga lagi yang akan didirikan oleh Bank Indonesia di Meulaboh, Banda Aceh dan Lhokseumawe. Pemerintah China dan Singapura juga akan menggunakan kapal laut untuk floating hospital.
Alwi mengakui, hingga har ini masih banyak jenazah yang belum dikubur. Menurut Alwi, ini karena kurangnya ekskavator untuk menggali. Sedangkan “tenaga manusia sangat terbatas,”ujarnya. Ia menghimbau masyarakat luas di Aceh dan para relawan untuk mengubur mayat yang ditemukan dengan menggunakan kantung mayat.
Selain itu, Alwi mengupayakan untuk merehabilitasi jembatan yang putus agar trabsportasi bantuan bisa berjalan lancar. Untuk transportasi darat, sampai hari ini baru sebanyak 52 truk yang dioperasikan. Ini akibat sulitnya mencari supir yang mau didatangkan dari Medan Ke Aceh. “Para supir takut dengan keamanan perjalanan dari Medan ke Aceh,”katanya.
Badriah
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|