Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Hidup di Aceh Terbolak Balik
Selasa, 04 Januari 2005 | 13:55 WIB

TEMPO Interaktif, Meulaboh: Keinginan Teuku Ahmad Dalin, 40 tahun, bertemu keluarganya di Meulaboh akhirnya terlaksana. Meski kehilangan ibunda dan sanak saudara, Dalin mengaku lega tiba di Meulaboh dengan selamat. Tapi dia begitu terkejut melihat kondisi kampung halamannya. Menurutnya, kehidupan masyarakat di sana terbolak balik dengan kenyataan sebelumnya.

"Para juragan, majikan, bos mengungsi di rumah pembantu dan bawahan mereka. Itu pula yang terjadi pada adik saya. Hidup orang di Aceh sekarang terbolak balik," kata Dalin ketika menghubungi Tempo melalui telepon satelit, Selasa, (4/1).

Umumnya, kata Dalin, atasan atau juragan itu mengungsi ke rumah bawahan atau pembantu mereka karena tak satu pun barang milik mereka dapat diselamatkan. "Rumah, mobil, semuanya hancur dan hilang sedangkan rumah bawahan mereka selamat karena letaknya di bukit atau daerah tinggi," kata Dalin yang telah 20 tahun menetap dan beristrikan perempuan Yogyakarta.

Dalin, pria kelahiran Meulaboh selama tiga hari sejak bencana gempa dan gelombang pasang tsunami bingung dengan kondisi yang ada. Dia menghubungi Tempo untuk menanyakan situasi kota tempat ibunya masih tinggal. "Sampai tiga hari setelah bencana, belum ada yang bisa mengatakan bagaimana situasi Meulaboh. Padahal pemerintah mereka bisa turun dengan helikopter," kata Dalin saat itu. Selama berhari-hari kegelisahan itu terus melanda. Keinginannya untuk mengetahui kondisi keluarganya begitu membuncah. Sayang jalur darat dan udara terputus. Hanya helikopter dan kapal laut yang bisa mendarat di Meulaboh.

Hingga pada 1 Januari, kepastian itu dia dapatkan dari rekannya yang berhasil sampai ke Meulaboh. Informasi terus dia himpun. Berbekal tiket pesawat komersial, dia dan istrinya Dessy Yusnita berangkat dari Yogyakarta menuju Medan. Sejak menikah sekitar 3 tahun lalu keinginan untuk mengunjungi Meulaboh selalu tertunda. Pasangan ini baru saja dikaruniai bayi kedua yang masih berumur lima bulan. Apa boleh buat, kunjungan mereka ke Meulaboh untuk menyaksikan kepedihan, duka, dan porak poranda. "Saya nekad berangkat setelah diberitahu kepastian rute menuju Meulaboh," ujarnya.

Dari Medan, Dalin dan istrinya naik Merauke Sabang Air Charter dengan biaya Rp 550.000 per orang menuju Blang Pidie. Tempat ini berjarak 120 kilometer dari Kota Medan. Tiba di Blang Pidie, Dalin harus membayar mobil sewaan dengan harga Rp 560.000 menuju kota Meulaboh. Sesampai di Meulaboh dia mencari Posko Induk yang terletak di Desa Rudeng kantor P & K.

Dalin menyaksikan kota Meulaboh telah porak poranda. "Mengerikan," katanya. "Istri saya yang shock," kata dia. Di tempat inilah dia bertemu dengan sang adik Teuku Ahmad Dadek yang juga Camat Kecamatan Johan Pahlawan.

Dalin juga mesti tabah mengetahui sang ibu hilang dan tidak ditemukan jenazahnya hingga saat ini. "Saya ikhlas kalau ibu saya tidak ditemukan," ujar Dalin dengan nada tabah. Selain ibunda tercinta, 11 anggota keluarganya yang lain ditemukan meninggal ataupun hilang. Dia menyebutkan rata-rata satu keluarga di Meulaboh kehilangan 12-13 anggota keluarga.

Camat Kecamatan Johan Pahlawan, Teuku Ahmad Dadek mengatakan 10 persen dari penduduk kota ini meninggal ataupun hilang. "10 persen dari 60.000 penduduk kami hilang atau tewas. Jumlah ini mungkin masih bisa bertambah," katanya.

Meulaboh adalah Ibukota Aceh Barat yang memiliki 20 kecamatan. Jumlah penduduk Aceh Barat sekitar 140.000 jiwa. Meski hanya sepuluh persen penduduknya tewas atau hilang, kerusakan bangunan mencapai lebih dari 80 persen. Rumah Dalin yang hanya berjarak 150 meter dari pantai rata dengan tanah.

Dalin melukiskan betapa porak porandanya wilayah di pesisir Pantai Barat Aceh ini. "Ada kapal ikan yang tersangkut di Terminal Meulaboh yang jaraknya puluhan kilometer," ujarnya.

Saat ini warga kota masih berbenah. Mayat-mayat masih bergelimpangan di setiap sudut kota. Dadek mengatakan dari 5.000 mayat yang bergelimpangan, baru sekitar 1.500 yang dikuburkan oleh Palang Merah Indonesia. Sisanya belum terurus.

Menurut Dalin, belum terevakuasinya para korban karena penduduk sudah tidak memiliki energi untuk menguburkan mereka yang tewas akibat bencana tsunami ini.

Bernarda Rurit

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Banjir lahar setelah letusan gunung Pinatubo di kota Bacolor, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912]. Aliran lumpur lahar setelah letusan gunung Pinatubo di Porac, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912].
Letusan Gunung Pinatubo
Letusan Gunung Pinatubo
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Israel Berniat Bantu Korban Bencana di Aceh
Tujuh Helikopter Dikirim ke Pantai Barat Aceh
Bupati Perintahkan Data Posko Bantuan di Tangerang
MMI Kirimkan Relawan Gelombang Ketiga
Jadwal Penerbangan ke Aceh Kacau
Korban Mencapai 150.000 Jiwa
Posko Bandara di Batam Buka 24 Jam
Pengadilan di Aceh Hancur Lebur, Perkara Bisa Dimulai Dari Awal
Pemerintah Belum Pasok BBM di Meulaboh
PWNU Jatim Siap Adopsi Ratusan Anak Korban Aceh
> selengkapnya...


Referensi

Tak Ada Alat, Gajah Pun Jadi
Anak Saya Teriak Abi ? Abi, Air Sudah Datang
Mobil Tenggelam, Saya Keluar dari Kaca Tengah
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data