Relawan Perlu Manajemen Yang Baik
Selasa, 04 Januari 2005 | 16:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Menurut Ady, kemampuan relawan yang paling dibutuhkan adalah ahli medis dan ahli sterilisasi air. "Karena butuh bor-bor air yang bagus," ucap Ady saat jumpa pers di BSMI di kantornya, Jakarta, Selasa (4/1). Selain itu juga dibutuhkan ahli sanitasi dan spikolog untuk menangani trauma masyarakat.
Dalam acara tersebut, hadir ketua tim I relawan BSMI Fuady Yatim, Kornadi (anggota tim), Laila Mutiara (relawan), dan salah seorang korban.
Lebih lanjut Ady mengatakan, penyakit di Aceh yang meningkat adalah diare, kolera, tetanus, patah tulang dan sesak napas. Selain itu, "Yang berbahaya adalah kondisi traumatik korban," ujar Ady.
Sementara itu Yatim mengatakan, penanganan medis terhadap korban masih minim. "Banyak pasien yang tidak tertangani sehingga angka kematian pascabencana meningkat terus," ujarnya.
Hingga saat ini, katanya, BSMI telah mendirikan dua posko kesehatan yakni posko tetap di Meunasah Lambaro, Banda Aceh serta posko bergerak yang meliputi 16 daerah. Menurutnya, pasien posko tetap sekitar 800 orang dan diperkirakan akan bertambah dua kali lipat setiap kalinya.
Sementara itu, obat-obatan pada posko bergerak hanya tinggal 40 persen saja. "Yang paling dikhawatirkan adalah pasien infeksi karena persediaan obatnya minim," katanya.
Ia menambahkan, seluruh dana kegiatan kemanusiaan BSMI berasal dari sumbangan masyarakat. Hingga 2 Januari yang lalu, dana tersebut mencapai lebih dari Rp 1,7 miliar.
Eworaswa-Tempo





