Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pengungsi dari Meulaboh Melintasi Medan Amat Berat
Selasa, 04 Januari 2005 | 19:06 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Minimnya bantuan pangan dan banyaknya mayat yang bergeletakan di mana-mana, membuat sebagian warga Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Meulaboh yang selamat dari gempa dan gelombang tsunami, nekat melakukan perjalanan panjang (longmarch) ke kabupaten lain yang dianggap lebih memadai.

\"Kami jalan kaki selama tiga hari,\" kata Abdulatif, 29 tahun, Desa Swapuntung, Nagan Raya, kepada Tempo di Beutong, perbatasan Meulaboh-Aceh Tengah, Senin (3/1). Bersama Abdulatif, juga ikut longmarch empat orang tua, lima pemuda, dan dua balita. Abdulatif sendiri membawa istrinya, Ratna, 20 tahun, dan anaknya, Chairudin, 7 bulan.

Abdulatif mengaku amat terpaksa melakukan longmarch, \"Karena bantuan amat minim, tak merata, dan banyak mayat di mana-mana,\" ujarnya. Atas dasar itulah mereka nekat keluar desa dan bahkan kabupatennya. Menurut rencana, mereka akan mengungsi ke rumah familinya di Lhokseumawe melalui Takengon (Aceh Tengah), tempat kerabat mereka tinggal.

Mereka longmarch dari Desa Swapuntung pada Jumat (31/12). Karena jalan raya yang menghubungkan Kabupaten Nagan Raya dengan Meulaboh rusak berat, mereka memutuskan berjalan kaki sepanjang 35 kilo meter. Dari Meulaboh berjalan kaki menuju Takengon dengan melintasi medan yang amat berat, terutama di Beutong. \"Jalannya tanah merah dan licin,\" kata Abdulatif.

Ketika tiba di Beutong, mereka sudah amat kelelahan dan kelaparan, sehingga Tempo dan wartawan lain memberikan sebagian perbekalannya untuk mereka. Biskuit amat membantu makan kedua balita. Meski kelelahan, sorot mata mereka menunjukkan tekad yang kuat untuk terus menyelamatkan diri. Dari Beutong, kata Abdulatif, mereka akan ke Takengon. \"Dari Takengon naik kendaraan umum ke Lhokseumawe,\" kata Abdulatif.

Tak hanya pengungsi dari Meulaboh dan Nagan Raya yang kesulitan menembus salah satu jalan Ladia Galaska yang sedang dikerjakan tersebut. Tempo yang mencoba menembus Meulaboh dari Banda Aceh menggunakan mobil L300 harus menempuh perjalanan yang melelahkan dengan waktu yang amat lama. Dari Banda Aceh ke Bireun empat jam, Bireun-Tekengon tiga jam, dan Takengon-Betoeng lima jam. Kendaraan tak bisa menembus Meulaboh karena medannya amat berat.

Pengamatan Tempo, beberapa orang yang hendak menyelamatkan para saudaranya dari arah Takengon, menggunakan mobil minibus dan zebra. Namuns esaampainya di Beutong, kendaraan harus diderek menggunakan traktor besar. \"Setiap mobil yang lewat sini, kecuali yang bergardan doble, harus ditarik traktor,\" kata salahs eorang operator traktor yang tidak mau disebutkan namanya. Mereka juga harus membawa solar cadangan minimal 40 liter. Kalau tidak, besar kemungkinan bakal kehabisan bahan bakar dan mogok di tengah hutan yang besar dan lebat.

Ari Basuki, Ali Anwar-Tempo


Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Banjir lahar setelah letusan gunung Pinatubo di kota Bacolor, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912]. Aliran lumpur lahar setelah letusan gunung Pinatubo di Porac, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912].
Letusan Gunung Pinatubo
Letusan Gunung Pinatubo
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Menabrak Kerbau, Pesawat Kargo Tri M-G Tergelincir
ITS Siapkan Rumah Knock Down untuk Aceh
Walikota Tangerang Perintahkan Camat Untuk Audit Sumbangan ke Aceh
Pemerintah Kota Padang Sumbangkan 10 Speedboat untuk Nelayan Meulaboh
Korban Bencana Aceh di RSPP Masih Trauma
Pemerintah Libatkan LSM untuk Audit Bantuan Aceh
Pemerintah Akan Mengaudit Sumbangan BUMN ke Aceh
Gempa Guncang Bondowoso
IPB : Mahasiswa Unsyah Bisa Ngungsi Kuliah Di IPB
Bantuan Aceh Menumpuk di Dua Gudang Armatim
> selengkapnya...


Referensi

Tak Ada Alat, Gajah Pun Jadi
Anak Saya Teriak Abi ? Abi, Air Sudah Datang
Mobil Tenggelam, Saya Keluar dari Kaca Tengah
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi

Website

Palang Merah Indonesia
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
Badan Meteorologi dan Geofisika
Departemen Sosial
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Petani Nganjuk Temukan Benda Purbakala di Ladang
Kehilangan Hak Pilih, Ratusan Warga Wangaya Kelod Protes TPS
HP Luncurkan Tinta dan Toner Baru
Masak Pakai Sampah
Antre Minyak

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data