|
Nasional
Saya Terlanjur Cinta Aceh
Rabu, 05 Januari 2005 | 01:52 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Abdi Purmono, 32 tahun, memutuskan ikut menjadi relawan saat menyaksikan siaran bencana alam itu di televisi. Niatnya itu didukung istrinya tercinta. Ia berniat mengevakuasi dan menyelamatkan para korban. Dengan bekal seadanya dan atas biaya pribadi, lelaki yang biasa dipanggil Abel ini berangkat menuju Banda Aceh.
Niat yang tulus itu ternyata menghadapi berbagai rintangan. Ia nyaris terlunta-lunta di Jakarta dan Medan karena susahnya mendapatkan tiket penerbangan dan kendaraan yang akan membawanya ke sana. Untuk mendapatkan tiket, ia harus mencari ke berbagai agen perjalanan dan maskapai penerbangan.
Beruntung satu maskapai menyediakan penerbangan gratis selama dua malam dari Jakarta ke Medan. Ia mendapatkan satu kursi di Star Air ke Medan pada 30 Desember 2004. Setiba di kota kelahirannya itu, 31 Desember 2004 pagi 01.35, ia sempat terlebih dahulu menjenguk temannya yang menjadi korban musibah gempa dan tsunami di RS Gleneagles Medan. Ia menginap semalam di rumah sakit itu.
Paginya, ia menyiapkan perbekalan sebelum memasuki kota di ujung Pulau Sumatera yang telah porak poranda, seperti persediaan pakaian, makanan dan obat-obatan. Barulah ia bisa terbang menunaikan niatnya setelah sebelumnya harus rela mengantri dari pukul 09.00 hingga pukul 16.00 WIB di Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Medan.
Setiba mendarat di Lanud Sultan Iskandar Muda, ia bersujud syukur bisa sampai dengan selamat. Ia berlutut sambil berdoa. "Saya berdoa bagi para korban dan keselamatan diri selama di Aceh," katanya. Ia sadar pekerjaan itu berisiko baginya.
Memasuki kota, ia kaget dengan kondisinya yang remuk redam dan luluh lantak akibat bencana itu. "Kondisinya begitu memilukan," ujar lelaki pernah tinggal selama enam bulan itu pada tahun 1999. Ia tak menyangka kehancuran kota itu lebih dari apa yang disiarkan televisi.
Ia mengakui meski hanya pernah tinggal sebentar, dirinya sudah terlanjur mencintai Aceh. Ia sendiri mengaku tak tahu mengapa. "Cukup dirasakan dan dimengerti saja perasaan itu," katanya terbata-bata. "Banyak teman dan beberapa saudara angkat saya disini".
Ia lalu berkeliling ke tempat pengungsian dengan berjalan kaki dan mencoba menggali ingatanya. Ia mencoba mengenali satu persatu rumah teman-temannya. Ia juga mencari informasi mengenai keberadaan beberapa orang anggota keluarga kenalannya. Ia sempat membantu beberapa pengungsi untuk membuat "iklan" kehilangan di Kamp penampungan pengungsi Mata Ie tepatnya di Stasiun TVRI Banda Aceh.
Usai dari tempat penampungan itu, ia menyusuri Jalan Teuku Umar hingga Masjid Raya Baiturrahman dengan berjalan kaki sambil memotret. Ia hampir digigit anjing yang hendak ditolongnya keluar dari parit berlumpur. Seekor kambing yang terjepit di sebatang pohon juga sempat dibantunya. "Jadi tak hanya menyelamatkan mayat (orang) saja," katanya.
Hari itu juga ia langsung menyisingkan lengan untuk mengevakuasi mayat yang bergelimpangan di kawasan Blang Padang hingga Pasar Aceh bersama tentara, pegawai dan relawan lainnya. Ada delapan mayat yang diangkutnya.
Anehnya, lelaki ini tidak takut dengan kondisi mayat yang membusuk. Biasanya begitu melihat darah berceceran saja, kepalanya langsung pusing dan perutnya mual. "Mungkin karena terlalu fokus pada tujuan utama dan bersemangat," ujarnya. Namun ia mengakui apa yang ia perbuat belum seberapa dibandingkan relawan lain.
Di Masjid Raya Baiturrahman, ia kembali mengulang memorinya. Ia duduk di tengah terik panas yang menyengat. Ia berharap semoga Aceh menjadi damai dan tentram kembali dengan datangnya bencana itu. "Jangan pernah ada lagi air mata dan darah di Tanah Rencong ini," katanya. Dan dia siap diterjunkan ke daerah lain.
Edy Can
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|