|
Nasional
Yang Penting Kuburkan Mayat
Rabu, 05 Januari 2005 | 02:35 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Azan zuhur baru saja dikumandangkan. Sepuluh anak muda berkaos menurunkan kantong plastik warna hitam berisi puluhan mayat dari truk tentara di bantaran kali Krueng Raya, Darussalam, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Setiap mayat diturunkan, saat itu pula meluncur cairan beraroma tak sedap dari dalam kantong mengguyur lengan dan kaki para relawan.
Namun, mereka tak tak peduli. "Ini sudah bagian dari
tekad kami untuk menguburkan semua mayat yang telah
membusuk," kata salah seorang lelaki, Jamaludin, 34
tahun. Mayat-mayat itu mereka masukkan ke dalam
pengeruk alat berat beko, lalu diletakkan di dalam lubang penguburan di dasar kali Krueng Raya yang mengering.
Jamaludin adalah salah satu dari 115 anak muda Aceh
yang dengan sukarela bergabung dalam relawan Laskar
Merah-Putih. "Semua aktivitas di kampung kami tinggalkan, termasuk pekerjaan dan keluarga," kata Jamaluddin. "Demi saudara-saudara kami yang menderita". Mereka tiba di Banda Aceh pada saat yang tepat, Kamis (30/12), saat mayat-mayat mulai membusuk dan jumlah relawan serta tentara masih amat minim, 300 orang saja.
Begitu sampai di Banda Aceh, mereka tidak mengetahui
persis kondisi darurat yang akan mereka hadapi. Namun
dengan bermodal tekad yang kuat dan ketangkasan
memilah prioritas, mereka memutuskan tergabung dalam
relawan evakuasi mayat. "Kalau tidak dievakuasi,
mayat-mayat yang membusuk bakal menimbulkan penyakit
lanjutan," kata Jamaludin. Itu artinya, penderitaan di
Banda Aceh kian parah.
Memang, pada awalnya sebagian relawan muntah-muntah
begitu melihat dan mengangkat mayat pertama. Namun,
lama kelamaan aroma mayat sebau apa pun menjadi biasa,
tak ubahnya menghirup aroma udara segar di kampung
mereka yang sejuk. "Allah memberi kami semangat sehingga menjadi imun, kebal terhadap bau mayat," ujarnya.
Seperti halnya Laskar Merah-Putih, puluhan relawan
Front Pembela Islam (FPI) dengan santainya mengangkat
mayat-mayat yang telah membusuk di sepanjang jalan dan
rumah-rumah warga di Kampung Blower dan Punge. "Hari ini kami mengevakuasi 60 mayat," kata Kepala Staf Operasi Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Machsuni.
Organisasi Islam yang kerap memberantas perjudian dan
prostitusi itu kini harus mengangkut mayat. "Meski mayat, mereka tetap manusia juga yang harus diperlakukan dengan terhormat," kata Machsuni.
Diakuinya, semula mereka merencanakan hanya menyingkirkan puing-puing, membersihkan kota dari lumpur, dan menyalurkan bahan bantuan. "Tapi begitu kami sampai di sini, mayat-mayat bergeletakan," ujarnya.
Evakuasi mayat bukan tunggal dilakukan relawan dan
tentara, masyarakat sekitar juga ikut mengevakuasi mayat-mayat. Lihatlah di Ulee Lheu. Di sana, saat tentara dan relawan amat sedikit, sedangkan mayat-mayat berjumlah ratusan, warga menyatu untuk mengevakuasi mayat. "Meski keluarga kami ada yang meninggal, kami tak mau tinggal diam," kata Marukaya, warga Ulee Lheu.
Seiring beregeraknya waktu, tim relawan terus mengalir, berdatangan dengan berbagai cara ke Tanah Rencong. Dalam catatan Pos Komando Penanggulangan Bencana Alam Nanggroe Aceh Darussalam, jumlah relawan terus bertambah. "Sedikitnya sudah 60 organisasi yang berhimpun, sedang dan akan diterjunkan," kata anggota Distribusi Posko Bencana, Hardi Gunawan. Maka mayat yang dievakuasi pun sudah mencapai 15 ribu mayat.
Sayangnya, para relawan tak dilengkapi peralatan memadai. "Kami minta 500 kantong mayat, tapi yang dipenuhi hanya 100 lembar," kata Zamari, warga Ulee Lheu. Sepatu bot pun hanya sepertiga dari jumlah yang diminta. "Beberapa rekan kami tertusuk paku dan pecahan kaca". Namun mereka tak peduli. Bagi mereka, apa pun caranya, yang penting mayat-mayat itu harus segera dikubur.
Ali Anwar
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|