Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

SEGERA Temukan Diskriminasi dalam Pengambilan dan Penyaluran Bantuan
Rabu, 05 Januari 2005 | 19:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Solidaritas Gerakan Rakyat Untuk Aceh (SEGERA) menyesalkan masih diberlakukannya darurat sipil dan pendekatan keamanan dalam penanggulangan musibah Aceh. “Hambatan-hambatan teknis yang selama ini dihadapi karena Pemerintah masih mempertahankan posisi politik,”ujar Arie Ariyanto, Ketua SEGERA di usai menemui Sekretaris Menko Kesra Yustedjo Yuwono di kantor Menko Kesra Jakarta Rabu (5/1).

Masyarakat Aceh, menurut Arie, harus menunjukkan KTP merah putih dalam mengambil bantuan. “Itu sangat disayangkan dan tidak masuk akal,”ujarnya. Ia mencontohkan di Meulaboh pengambilan logistik dilakukan di Kodim-Kodim, sementara di Banda Aceh setiap distribusi logistik harus di bawah koordinasi Pangdam.

Beberapa relawan, ungkapnya, juga masih harus disweeping identitasnya untuk pengambilan logistik. “Padahal beberapa rakyat sudah lapar, bahkan beberapa pengungsi sudah mati dan semakin menurun daya sehatnya. Di Kecamatan Mata’i, Banda Aceh ada 50 yang mati,”ujarnya.

Ditanya tentang kemungkinan penyusup mengatasnamakan relawan, ia mengungkapkan, SEGERA sudah memverifikasi bahwa kemampuan GAM untuk melakukan tindak pidana yang diantisipasi itu tidak ada. “Malah hari pertama gempa senin (27/12) GAM Swedia mengeluarkan statement melakukan gencatan senjata sepihak dan akan cooling down dulu serta bahu membahu dengan pihak manapun nasional dan internasional untuk membantu krisis kemanusiaan di Aceh,”ujarnya.

Arie menyesalkan mengapa dalam penyaluran distribusi pemerintah mempunyai hasrat memonopoli di mana bantuan masuk dari unsur masyarakat yang sudah masuk ke Aceh harus dikoordinasikan ke Kodim, Kodam, Koramil dsb. “Pemerintah (TNI) ingin mengambil simpati dan legitimasi dengan mengambil hati rakyat Aceh ,”ujarnya.

Berbagai fakta yang terjadi di lapangan seperti adalah kehabisan logistik, penghambatan distribusi logistik karena harus disertai KTP, patroli aparat menggunakan senjata lengkap hingga menambah teror baru, banyaknya pengungsi yang meninggal akibat kurangnya distribusi logistik dan lemahnya bantuan medis, prosedur pengambilan logistik yang dipersulit seperti di bandara Blang Bintang dan Polonia Medan, di Bandara Blang Bintang Banda Aceh mie instan bantuan dijual dengan harga Rp 500.

Selain itu, adanya sweeping dan pungutan liar Rp 40 ribu-Rp 50 ribu terhadap relawan yang sedang melakukan perjalanan dari Tapak Tuan ke Meulaboh dengan alasan untuk subsidi BBM aparat. “Terjadi juga di Pidie dan Aceh Jeumpa,”ujarnya.

Menurut Sesmenko, Yustedjo Yuwono itu hanya oknum saja. “Pemerintah tidak mungkin mengkoordinasikan hal itu dan dalam situasi seperti ini mungkin ada oknum yang menggunakan wewenang untuk melakukan tindakan semacam itu,”ujarnya.

SEGERA berharap agar semua elemen nasional bahu-membahu berkonsentrasi untuk memberikan solidaritas kemanusiaan di Aceh betul-betul diakomodasi sehingga tidak ada lagi faktor-faktor teknis dan strategis yang menghambat untuk mengakses ke sana. “Karena faktanya banyak posko tapi tidak lancar terdistribusi ke sana. Di satu sisi banyak pengungsi-pengungsi kelaparan,”kata Arie.

Badriah

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Banjir lahar setelah letusan gunung Pinatubo di kota Bacolor, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912]. Aliran lumpur lahar setelah letusan gunung Pinatubo di Porac, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912].
Letusan Gunung Pinatubo
Letusan Gunung Pinatubo
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Garuda Tetap Beri Keringanan untuk Penerbangan ke Banda Aceh
Rieke 'Oneng' Dyah Pitaloka : Cegah Adopsi Anak
Pemerintah Kota Surabaya Larang Penggalangan Dana di Jalanan
Polri Desak MA Segera Sidangkan Kejahatan Pasca Bencana Aceh
Meulaboh akan Dibangun Menjadi Kota Baru
Presiden Yudhoyono Kendalikan Langsung Pengawasan Bantuan ke Aceh
TNI Waspadai Penyelundupan Senjata oleh GAM
Kloter III Majelis Mujahidin Gagal Berangkat ke Aceh
Bagir Manan : Perkara Tingkat I dan Banding di Aceh Tak Jelas Penyelesaiannya
Pakistan Kirim Obat-Obatan dan Militer ke Aceh
> selengkapnya...


Referensi

Tak Ada Alat, Gajah Pun Jadi
Anak Saya Teriak Abi ? Abi, Air Sudah Datang
Mobil Tenggelam, Saya Keluar dari Kaca Tengah
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data