|
Nasional
Giliran ISPA Menyergap Pengungsi
Kamis, 06 Januari 2005 | 01:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Memasuki pekan kedua usai bencana gempa dan gelombang tsunami, warga Nanggroe Aceh Darussalam mulai terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
"Sebanyak 25 persen pasien mulai terserang ISPA," kata Kepala Pusat Penanggulangan Bencana Departemen Kesehatan, dr Doti Indrasanto kepada TEMPO di Banda Aceh, Rabu (5/1).
Data ini diperoleh Doti berdasarkan pantauan terhadap para pasien rumah sakit yang jumlahnya ratusan orang di Banda Aceh. Yakni dari pasien yang dirawat di RS Kesehatan Kodam Iskandat Muda, RS Tengku Fakinah, dan RS Harapan Bunda.
Para penderita ini diperkirakan akan semakin bertambah dalam beberapa hari ke depan. Karena kata Doti, mereka hidup di pengungsian dengan fasilitas yang amat minim. "Mereka kedinginan, kekurangan makanan dan selimut," kata Doti. Selain itu, kata Doti, umumnya para pengungsi pernah menelan dan menghirup air kotor saat diterjang air bah.
Sialnya, "air laut yang kotor itu, mengandung kuman-kuman berbahaya," ujar Doti. Maka untuk mengobati mereka yang kini terkena ISPA, pihak Departemen Kesehatan sudah mendatangkan dokter ahli penyakit paru dari Jakarta yang dilengkapi dengan peralatan bronchoscopy -- alat penghisap kotoran yang menyangkut di saluran pernapasan.
Para dokter ini, kata Doti, termasuk kedalam tim awal. Selain melakukan pengobatan, juga mendata dan melakukan perkiraan-perkiraan penyakit yang akan diderita pengungsi pada hari dan pekan selanjutnya.
Sedangkan obat-obatan yang dipakai untuk memberangus ISPA, kata Doti, merupakan jenis yang ampuh, termasuk antibiotik generasi IV. "Antibiotik jenis ke-empat paling mutakhir," kata Doti. Diantaranya adalah ceftriaxone dan cefotaxime yang diberikan dalam bentuk injeksi.
Dari pemantauan TEMPO, saat ini sejumlah warga di pengungsian juga mulai ada yang tereserang diare, sesak napas, dan sakit paru-paru. Ini karena di lokasi pengungsian hanya terdapat sedikit dokter spesialis dengan obat-obatan yang terbatas. Dan kondisi kesehatan di pengungsian ini – sejauh yang bisa diamati, kian memprihatinkan.
"Semakin hari semakin parah," kata Usman warga Teunayong yang kini jadi pengungsi di Desa Mataie. Usman merasakan sesak di tenggorokan dan paru-parunya. "Tersedak air kotor saat digulung gelombang tsunami," ujarnya. Untuk mengobati sakitnya ini, mereka sudah mendatangi posko kesehatan TNI AU yang ada di lapangan udara Iskandar Muda. "Disini dokternya dari berbagai negara maju, dengan obat-obatan paten," kata Usman.
Ali Anwar (Banda Aceh)
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|