|
Nasional
Tiga Anak Aceh Meninggal di RSAB Harapan Kita Jakarta
Kamis, 06 Januari 2005 | 19:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Korban gempa dan tsunami Aceh, Maharani Aulina (2 tahun 3 bulan) akhirnya meninggal di Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Harapan Kita, Rabu (5/1) pukul 19.45 WIB. "Maharani mengalami radang dan infeksi yang parah pada paru-parunya,"kata dr. Eva Jumpa, koordinator layanan korban tsunami Aceh RSAB Harapan Kita kepada wartawan saat konferensi pers, Kamis (6/1).
Sejak 1 Januari 2005 sampai hari ini, ada 22 orang korban gempa dan tsunami Aceh, anak dan dewasa, yang dirawat di RSAB Harapan Kita. Tiga anak di antaranya dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU). Maharani Aulina dan Desy Chaerani yang dirawat sejak tanggal 1 Januari 2005 serta Rahmat Suhada yang dirawat sejak tanggal 3 Januari 2005.
Namun ketiganya telah meninggal kini. Rahmat Suhada (1 tahun 5 bulan) meninggal pada 3 Januari 2005 pukul 15.30 WIB. Desy Chaerani meninggal kemarin, 5 Januari 2005 pukul 07.00 WIB. Keduanya dimakamkan di TPU Menteng Pulo Jakarta Pusat."Penyebab kematian ketiga korban ini relatif sama, hanya gradasinya saja yang berbeda, ada yang cepat, ada yang lama, perawatannya berbeda,"kata dr. Eva.
Menurut dr. Eva, ketiga korban anak ini, pada saat datang, kondisinya memang sudah parah. "Mereka dibantu oleh alat bantu pernapasan (ventilator),"kata dr. Eva. Baik Desy maupun Maharani mengalami infeksi berat pada paru-parunya. "Karena air laut bercampur lumpur masuk ke dalam paru-parunya," kata dr. Eva.
Dengan masuknya lumpur ini, Maharani juga mengalami gangguan gerakan usus. Menurut dr. Eva, berdasarkan keterangan saksi mata, lumpur ini sangat kental.
Dalam perawatan terakhirnya, Maharani tidak menjalani operasi. "Karena tidak ada indikasi untuk dilakukan operasi,"kata dr. Eva.
Dari 22 orang yang dirawat di RSAB Harapan Kita, 15 orang rawat jalan, 3 orang ditempatkan di Ruang ICU, dan 4 orang dirawat di Ruang Widuri, Kenanga, dan Tanjung. Oriza Salsabila (2 tahun) adalah korban yang terakhir pulang dan menjalani rawat jalan. Keluarga korban meminta Oriza pulang hari ini (6/1) dan berobat jalan. "Oriza datang ke sini dengan kondisi dehidrasi parah dan kurang gizi,"kata dr. Eva.
Selain perawatan fisik, korban dan keluarga korban juga memerlukan perawatan psikologis. Untuk perawatan psikologis, 4 orang psikolog dari RSAB Harapan Kita sudah bekrja sama dengan crisis centre dari Universitas Indonesia.
Fanny Febiana
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|