Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Mari Membangun Aceh Berbasis Ekologi
Jum'at, 07 Januari 2005 | 18:02 WIB

TEMPO Interaktif, Bogor:Penataan daerah pesisir pasca Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara diharapkan dibangun berbasis lingkungan, bukan hanya berbasis fisik belaka.

Menurut Ketua Tim, Prof. Dr. Ali Kodra dalam acara Working Group Recovery Aceh Pasca Tsunami di Gedung Mawar Kampus Baranangsiang IPB, Jumat (8/1, perencanaan pembangunan bisa juga berbasis ekologi dengan membentuk wilayah atau zona. Seperti zona penyangga, zona budidaya, zona perkantoran dan zona pemukiman. Sehingga dimasa yang akan datang wilayah pesisir akan mampu mengurangi dampak bencana tsunami, gelombang pasang maupun banjir.

Pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami berbasis
lingkungan akan mempunyai nilai lebih dibanding
pembangunan fisik saja. Penggabungan antara
pembangunan berbasis lingkungan dengan Pembentukan
wilayah/zona juga mempunyai nilai lebih untuk
melindungi daerah tersebut dari ancaman musibah serupa
di waktu mendatang.

Dari hasil pengamatan ahli ekologi IPB, untuk wilayah kerusakan terparah di pesisir di Aceh : Lhok Ngah, Meulaboh dan Banda Aceh, berada di ketinggian 50 sentimeter sampai 300 meter diatas permukaan laut (dpl). "Daerah ini sangat rendah dan rawan bencana, jangankan Tsunami, gelombang pasang saja daerah pesisir langsung terendam,"kata Ali Kodra. Ali menunjukan gambar posisi ke tiga daerah itu berbentuk cekungan diantara
Perbukitan Banda - Seulawah. Sehingga ketika Tsunami
datang ketiga kota ini terendam.

Menurut Wakil Ketua Tim, Dr. Mahmud Raimadoya, sebaiknya proses perencanaan pembangunan Aceh menggunakan pola pendekatan partisipatif, tidak bersifat top down. "Masyarakat, dan stake holders
lainnya harus dilibatkan dalam proses perencanaan.
Jadi jangan hanya dari pemerintah pusat,"ujar ahli
satelit IPB. Luluh lantaknya kota-kota di Aceh bahkan nyaris rata dengan tanah, menurut Mahmud, akibat tidak
adanya penghalang di pesisir.

Untuk kembali menata kembali Aceh menjadi suatu kota
Agro Ekopolitan atau kota berbasis ekologi berwawasan
lingkungan, sebaiknya dibangun melalui sistem
wilayah/zona. Dengan diawali zona laut, zona khusus,
zona perlindungan, zona budidaya, zona perkantoran,
zona permukiman dan pelayanan umum.

Zona khusus terdiri dari daerah pertahanan (Hankam),
Pelabuhan, tempat pelelangan ikan dan tempat rekreasi
pantai. Zona perlindungan diisi dengan sepadan pantai,
muara sungai dan sepadan sungai, seluruh daerah ini
sebaiknya ditanami mangrove atau vegetasi pantai
lainnya. Zona budidaya diarahkan untuk pertanian,
perkebunan dan marikultur.

Zona perkantoran dan pelayanan umum, sebagai pusat
pemerintahan dan pelayanan terhadap masyarakat,
termasuk perkantoran swasta, hotel, rumah makan dan
rumah sakit. Terakhir Zona Permukiman yang terletak di
pungung lahan perbukitan dengan fasilitas
pendukunganya, seperti pasar, pusat perbelajaan,
tempat hiburan, sarana olahraga dan infrastruktur
lainnya.

Menurut kajian perhitungannya, tim ahli ekologi
menyebutkan setiap pelaksanaan perencanaan suatu
perkotaan akan menghadapi berbagai kendala. Masalah
utama yang timbul yakni hak milik tanah. Karena warga
akan mempertahankan tanah miliknya, meskipun bisa
melalui ganti rugi belum tentu masyarakat Aceh setuju.
Soal tanah ini bisa menjadi modal awal yang cukup
mahal, belum lagi kebiasaan masyarakat pesisir yang
sudah menyatu dengan daerah pantai, untuk mendekati
tempat mencari ikan sebagai mata pencarian utama
mereka.

Jika dipindahkan ke daratan tentu akan menjadi masalah
baru, "Untuk itu diperlukan pendekatan secara khusus,
jadi untuk membangun suatu kawasan yang berwawasan
ekologi dan lingkungan memang memerlukan biaya besar,
namun di masa yang akan datang akan sangat
bermamfaat,"ujar Alikodra.

Deffan Purnama

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Banjir lahar setelah letusan gunung Pinatubo di kota Bacolor, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912]. Aliran lumpur lahar setelah letusan gunung Pinatubo di Porac, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912].
Letusan Gunung Pinatubo
Letusan Gunung Pinatubo
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pramuka Akan Gelar Kemah Bhakti di Aceh
Dephub Sudah Berangkatkan 12 Kapal ke Aceh
Hongaria Bantu Indonesia Rehabilitisasi Aceh di Sektor Industri
AWG Desak Presiden Keluarkan Kebijakan Baru di Aceh
Wujudkan Jakarta Hijau, DKI Tanam 115 Ribu Pohon
Pengungsi Meulaboh Mulai Resah soal Adopsi Anak.
Wabah Penyakit Ancam Aceh
Kofi Annan Kunjungi Aceh
Keringanan Mengangsur Kredit untuk PNS Aceh
Presiden akan Kunjungi Kolinlamil
> selengkapnya...


Referensi

Tak Ada Alat, Gajah Pun Jadi
Anak Saya Teriak Abi ? Abi, Air Sudah Datang
Mobil Tenggelam, Saya Keluar dari Kaca Tengah
UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
Kepres RI No. 79 Thn.2003 Tentang Pembangunan Jembatan Surabaya - Madura
> selengkapnya...

Website

Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Riset dan Teknologi
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Kabupaten Batubara Kekurangan Dana Selenggarakan Pilkada
Karena Ditekan, Glenn Suap Urip Rp 1 Miliar
Rumah Ryan di Jombang Ramai Dikunjungi Warga
Djoko Suprapto Kembali Diperiksa Polisi
Menteri Perhubungan Tegur Maskapai Pecah Ban

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data