|
Yusuf Kalla: Moratorium Diajukan Saat Paris Club
Jum'at, 07 Januari 2005 | 18:32 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap negara-negara donor dapat bersepakat menunda pembayaran utang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo tahun ini. Kesepakatan itu diharapkan tercapai melalui forum Paris Club, yang diadakan pada 12 Januari mendatang.
Menurut dia, pemerintah telah berketetapan untuk menindaklanjuti tawaran sejumlah negara mengenai moratorium utang luar negeri Indonesia. Untuk itu, pemerintah akan mengirim delegasinya pada pertemuan Paris Club nanti. Delegasi yang akan dikirim pemerintah terdiri dari Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda dan tim ekonominya.
Dalam forum itu, kata Wapres, sesuai dengan keinginan sejumlah negara maka Indonesia akan mengajukan secara langsung permintaan moratorium tersebut. “Oh ya (akan kami ajukan langsung). (Karena) memang akan dibicarakan nanti di Paris Club ‘kan,” kata dia, di Kantor Wakil Presiden, di Jakarta, kemarin.
Tapi Jusuf Kalla belum bisa merinci secara pasti, besarnya permintaan penundaan pembayaran atas nilai utang yang jatuh pada tahun ini. “Perhitungannya ada di Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan. (Jadi) detailnya saya tidak bisa sampaikan,” kata dia.
Menurut Wapres, pemerintah hanya berharap penundaan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo tahun ini akan dapat mengurangi beban anggarannya. Tapi dia berharap, forum Paris Club bersedia menunda pembayaran utang Indonesia tahun ini minimal sekitar Rp 30 triliun. “Kalau bisa dikurangi Rp 30 triliun, kan lumayan. Artinya itu ditunda. Moratorium itu kan ditunda,” kata dia.
Paris Club adalah forum yang terdiri dari 19 negara-negara maju dan pemberi pinjaman terbesar. Forum itu juga beranggotakan delapan negara-negara terkaya (G-8), yaitu Inggris, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Italia, Kanada, Prancis, dan Rusia. Kanselir Jerman Gerhard Schroeder yang pertama kali memprakarsai ide moratorium utang bagi negara-negara yang ditimpa musibah gempa dan gelombang tsunami, utamanya Indonesia dan Somalia.
Ide ini mendapat sambutan positif dari berbagai negara donor, yang rencananya akan dibahas dalam pertemuan Paris Club mendatang. Meski terkesan hati-hati, pemerintah Indonesia menyambut baik tawaran tersebut. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta tim ekonominya mempelajari dan menindaklanjutinya. Karena, moratorium ataupun pengurangan utang akan sangat membantu beban anggaran Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Menurut catatan Bank Dunia, Indonesia mempunyai utang luar negeri sekitar US$ 130,8 miliar. Sedangkan utang Indonesia kepada Paris Club sekitar US$ 41,5 miliar. Untuk tahun ini, utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo sebesar Rp 71,9 triliun.
yura syahrul
INDEKS BERITA LAINNYA :
|