|
Nasional
Pos Marinir Meuraksa Itu Sudah Tak Berbekas
Jum'at, 07 Januari 2005 | 19:49 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Desa pesisir Meuraksa itu tidak ada lagi kehidupan, ratusan rumah plus satu pos marinir disapu ombak pasang tsunami, Minggu (26/12) pekan lalu. Ruas jalan masih dipenuhi sampah dan reruntuhan, daun daun pepohonan tampak menguning.
Meuraksa, Kecamatan Blang Mangat, Kota lhokseumawe adalah gabungan beberapa desa yang tergabung dalam kemukiman (struktur di bawah kecamatan) dipimpin oleh seorang kepala mukim. meliputi desa Kuala Jambo Timu, Jambo Masjid,Blang Cut,Desa Balao Desa Blang Teu.
Warga desa itu berpofesi sebagai nelayan, di desa ini masih berdiri tegak sebuah mesjid. Tsunami datang hanya menyapu bagian pagar mesjid saja, sementara rumah di sekeliling habis rata dibawa arus ombak.
Desa Jamboe Timue, memang mengarah ke timur, jalan 3 meter masih tersisa bekas aspal goreng, bisa menembus kecamatan tatangga Syamtalira Bayu masuk dalam wilayah Aceh Utara. Namun jalan lintas tersebut terputus akibat satu jembatan di areal pertambakan ujung timur rusak hanya tinggal satu penyangga.
Satu boat nelayan berukuran besar terparkir tepat, di ujung jembatan. Sekitar 300 meter sebelum jembatan, dulunya dua buah pos marinir berdiri tegak di sebelah kiri jalan membelakangi laut dan sebelah kanan jalan berdampingan dengan tambak.
Kini, Kamis (6/1) kemarin, pemandangan dua belas hari yang lalu, tidak nampak lagi disana, yang tersisa hanya batang kelapa di kebun–kebun warga. Dua warga setempat yang ditemui TEMPO ketika sedang membersihkan areal tambak disekitar itu mengatakan, semua sudah bersih, dulunya rumah berjejer di pinggiran pantai tersebut, tapi sekarang sudah kosong dan hampa disapu tsunami kemarin, termasuk Pos marinir itu. Tunjuknya ke arah pos yang masih terlihat beberapa goni bercat hijau berisikan tanah yang dijadikan benteng pasukan angkatan laut itu.
Pos marinir itu persis terletak di pingir pantai, dengan taksiran jarak hanya berselang, 300 meter, di belakang pos itu dulunya daratan, dan dipenuhi pepohonan pinggiran pantai termasuk bambu, kini tidak ada lagi.
Pecahan ombak sudah begitu jelas terlihat, beberapa bagian daratan juga sudah dikikis air laut dan menjadikan muara, bagian lainnya sudah membentuk pulau kecil. Di sepanjang desa itu tidak terlihat keramaian, hanya satu dua orang terlihat sedang menyisir puing-puing rumah mereka yang hancur, anak –anak pun kembali melihat letak rumahnya, seiring merngumpulkan barang bekas untuk dijualnya ke pengumpul barang bekas.
Arfan (50) tahun warga Jamboe Mesjid berada diantara reruntuhan rumahnya, dia sedang membersihkan selembar terpal plastik, dia berdiri dan memandang ke sudut kiri dan kanan semuanya sudah rata. Saat Tempo menyapanya, mengatakan bahwa ia kembali dari kamp pengungsi sebentar untuk melihat rumahnya walau hanya meninggalkan bekas sambilan mencari plastik tenda yang akan dijadikan alas tidur di pengungsian RSU Bukit Rata Lhokseumawe.
Kawasan desa itu juga ada yang disebut dengan kuala Meuraksa, disana juga ditempati satu pos marinir, pada saat kejasdian itu, pasukan marinir lari menyelamatkan diri ke meunasah setempat, karena hantaman air yang tidak begitu keras di sektor barat membuat pos tersebut masih tersisa dan kini sudah mulai dibersihkan dan dibangun kembali.
Namun, warga tidak mengetahui, bagaimana pasukan marinir di Pos Jamboe Timu menghadapi ombak pasang Tsunami yang ganas itu posisinya tepat digerbang laut, begitu juga seperti pos marinir di pesisir pantai Krueng Mane.
Senin sehari setelah tsunami, media center TNI di Lhokseumawe merilis, tiga orang pasukan marnir dari yonif 2 dan 3 tewas, masing masing Serka Mar Condro Pramono (yon 3 Mar), Praka Mar Dede Hasan Basri (Yon 2) Prada mar Warman dari Yon 2. Praka mar Krisdianto Arief (Yon 2) ditemukan dalam keadaan meninggal di SD Seumatang Aceh Utara. Tiga lainnya belum ditemukan, masing –masing Kopda Mar Purwoko (Yon 3) Kopda Mar Wawan(Yon 3) Prada Mar Purbo Cahyono (Yon 3 Mar) dan sejumlah lainnya luka-luka.
Tiga unit mobil satgas muara rusak berat, satu mobil Auverland, satu unit BTR 80, satu unit CJ-7, 47 pucuk senjata juga dilaporkan hilang, masing –masing 29 pucuk ss1,3 pucuk RPG,4 Pucuk RPD,1 pucuk GLM,5 pucuk pistol Sig Sauer,2 pucuk minimi,1 pucuk SMR K-3,2 Pucuk pistol sign.
Komandan Batalyon yon mar 7 marinir Kolonel Bambang Sus tak mengakui data tersebut. "Pasukan kami tidak ada kata musibah dalam musibah ini, begitu juga dengan peralatan militer lainnya,"katanya.
Namun pos marinir yang berada di pesisir pantai Meuraksa hampir tdak meninggalkan bekas, tapi warga tidak mengetahui mereka menyelamatkan diri kemana waktu pasang Tsunami menyambar tajam di pinggiran pantai yang hampa dan agak jauh dari rumah penduduk.
Imran MA
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|