|
Nasional
Pengungsi di Loknga Butuh Beras
Minggu, 09 Januari 2005 | 21:40 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Para pengungsi yang berada di lokasi pengungsian Lampaya saat ini sangat kekurangan beras. Pengungsi yang berjumlah 1.300 orang dari empat desa di kawasan pemukiman Loknga itu memang sudah tersentuh dan mendapat banyak bantuan makanan maupun medis pada hari ke empat setelah bencana tsunami pada 26 Desember lalu.
Menurut Kepala Desa Lampaya Burhanudin Abdullah
bantuan makanan di lokasi tersebut hanya berupa mie
instan dan biskuit. "Kami sangat kekurangan beras,"
katanya. Selain makanan kebutuhan pokok pengungsi
lainnya seperti air bersih untuk minum dan susu untuk
anak cukup terpenuhi. "Tapi air untuk mandi dan cuci
tidak ada,"kata Burhanuddin.
Kebutuhan air di tempat tersebut selain didatangkan oleh Departemen Pekerjaan Umum setiap harinya juga disediakan oleh Pompiers Sans Frontiers dari Perancis, mereka mengebor tanah dan memasangkan alat suling. Sehingga air yang dihasilkan dapat langsung diminum.
Abdullah juga mengungkapkan para pengungsi dari desa
Lampaya, Lamkruet, Ul Raya dan Moniken ini masih
terserang penyakit berbagai penyakit pasca tsunami,
antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan
Diare, meski bantuan paramedis dari Merci sudah datang
ke tempat ini.
Salah seorang pengungsi, Happy Agustina warga Peukan
Bada, Aceh Besar mengaku penyakit saluran pernapasan
yang dideritanya belum sembuh-sembuh walaupun sudah
meminum obat dari paramedis. "Tenggorokan ini masih
gatal, panas rasanya,"katanya dengan suara serak.
Ketika, badai tsunami datang ia berhasil menyelamatkan
diri naik keatas bukit Mido yang melingkari Loknga.
Setelah dua hari di bukit ia baru turun kembali
melihat semuanya sudah rata dengan tanah.
Kawasan pemukiman Loknga termasuk paling parah
kerusakannya dengan korban yang cukup banyak. Menurut
Abdullah, Kepala Desa Lampaya, warganya paling banyak
selamat yakni 1.100 an orang, jauh dibandingkan dengan
Lamkreut ,desa berpenduduk 1.700 orang itu hanya menyisakan 100 orang, Ul Raya 1.000 penduduk sekarang tinggal 50 orang dan Moniken hanya selamat 100 orang dari 3500 penduduk.
Ketika Tempo melewati kawasan Loknga dari Lampaya,
Minggu (9/1) pasukan TNI dan Brimob masih terus
melakukan evakuasi mayat korban gempa bumi dan tsunami
di daerah pesisir pantai menuju Meulaboh itu.
Mayat-mayat yang beberapa hari lalu masih
bergelimpangan telah dievakuasi dan langsung di kubur
dalam sebuah kuburan massal yang digali cukup dalam di
daerah tersebut.
Sebuah kompleks militer TNI Angkatan Darat Batalyon
Infanteri 2, Darma Jaya Kompi Senapan B di kawasan
Loknga rata dengan tanah, hanya ada papan nama
kompleks yang tersisa. Aspal di beberapa ruas jalan
tampak terkelupas. Sebuah jembatan besar yang
menghubungkan Banda Aceh dan Meulaboh putus, hanya
menyisakan pondasi-pondasi beton.
Poernomo G. Ridho
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|