|
Nasional
Pengusaha Aceh Kesulitan Bayar Kredit
Senin, 10 Januari 2005 | 11:40 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Korban gempa bumi dan tsunami di Banda Aceh mulai takut memikirkan resiko usahanya. Sebab, pinjaman bank yang diterima pengusaha dipastikan macet tidak terbayarkan. Ini berkaitan dengan ketiadaan order pekerjaan dan pekerjanya.
Marzuki, penduduk kampung Prawi yang selama ini membuka usaha bengkel Satahi Teknik, menanggung utang Rp 600an juta yang diperolehnya dari Bank Syariah Mandiri sejak lima tahun terakhir. Jumlah tersebut belum termasuk kredit dua unit kendaraan sepeda motor yang diambil untuk dua orang anaknya.
Untuk pinjaman modal usahanya tersebut ia menggunakan agunan sertifikat rumah, tanah dan tempat usaha. Setiap bulannya, cicilannya seluruhnya sekitar Rp 23,5 juta. ?Saya bingung, harus memakai uang apa untuk membayarnya,? katanya, sewaktu ditemui sepulangnya dari tempat pengungsian di Medan, Minggu (9/1).
Selama ini dikatakannya, ia memiliki omzet sekitar Rp150 juta dan tidak pernah mengalami kesulitan untuk membayar angsurannya. Ia menghasilkan produksi
kontainer sampah, tangki mobil minyak dan bak dump truck. Terakhir, setelah Lebaran menghasilkan lima unit bak dump truck yang masing-masing seharga Rp 27 juta, tangki mobil minyak Rp 21 juta per unit dan kontainer bak sampah seharga Rp 17 juta per unitnya.
Ia menyatakan ketidak yakinannya memenuhi tanggungan pengembalian pinjaman tersebut karena juga memiliki piutang Rp300an juta di tangan mereka yang menjadi korban di daerah pesisir pantai yang membeli bak dump truck pengangkut pasir. ?Mereka sudah tidak ada lagi,? katanya. Apalagi, peralatan kerja yang dimilikinya dinyatakan telah hancur dan dari 25 orang pekerjanya, hanya tinggal tiga orang yang masih hidup.
Supriyantho Khafid?Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|