Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Hasyim Usul Mayat di Aceh cukup Ditimbun Tanah
Senin, 10 Januari 2005 | 15:32 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi mengusulkan mayat korban gempa bumi dan gelombang tsunami di Aceh dan Sumatera Utara cukup ditimbun tanah. “Kalau dibakar itu tidak dikenal dalam syariat Islam,” ujarnya kepada wartawan setelah memberangkatkan tiga truk bantuan dan enam orang relawan untuk Aceh, Senin (10/1), di Jakarta.

Menurut Hasyim, pembakaran mayat hanya akan menimbulkan konflik kultural dan melukai perasaan orang Aceh. Selain itu, menurutnya, polusinya juga akan berpengaruh bagi kesehatan. “Jangan sekali-kali dibakar, akan jadi ekses dibelakang hari,” katanya mengingatkan.

Mengenai usaha pemerintah untuk mengubur mayat, menurut Hasyim, hal itu membutuhkan dua kali kerja. “Menggali, memasukan, kemudian menutupnya dengan tanah. Kalau ditimbunkan lebih gampang,” ucapnya.

Hasyim mendasarkan usulannya itu kepada syariat Islam. “Selama itu bisa kembali ke tanah, maka itu harus dikembalikan ke tanah,” ujarnya.

Mekanisme penimbunan itu, kata Hasyim, tidak perlu mayat-mayat dikumpulkan hingga banyak baru ditimbun. Ia menambahkan, untuk mayat-mayat yang berada dijalan, sungai, cukup dipinggirkan kemudian langsung ditimbun.

Ketika ditanya apakah penimbunan mayat tersebut sudah dipraktekan oleh relawan PBNU, Hasyim tidak menjawab dengan jelas. “Saya kira begitu,” ucapnya.

Mengenai kemungkinan timbulnya permasalahan atas penimbunan, kata Hasyim, dalam 1-2 tahun mendatang tengkorak-tengkorak manusia itu baru akan dibereskan. Yang terpenting saat ini, menurut dia, adalah menimbun mayat agar tidak menimbulkan masalah kesehatan yang lebih kompleks.

Indriani

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Suasana Kampung Nelayan di Maumere yang porak poranda setelah dihantam gelombang/ badai Tsunami setinggi 30 meter, Flores, 1993 [ TEMPO/ Hidayat SG; 14D/340/93; 20010215 ]. Banjir lahar setelah letusan gunung Pinatubo di kota Bacolor, Pampanga, Filipina. [Dok. Letusan Pinatubo; 11D/204/1992; 20030912].
Letusan Gunung Pinatubo
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

NU Optimalkan Fungsi Pesantren di NAD Tampung Anank-Anak
5.924 Polisi di NAD Belum Melapor
Pertamina: Pasokan BBM untuk Aceh Cukup
10 Kru Helikopter Seahawk Selamat
Rusia Kirim 150 Tenaga Medis ke Indonesia
DPR akan Bahas Penanggulangan Tsunami Bersama Presiden
StanChart Alokasikan US$ 5 Juta untuk Aceh
Menko Kesra: Tidak Benar Bantuan Tidak Merata
Pengusaha Aceh Kesulitan Bayar Kredit
Penyebab Helikopter Jatuh Masih Diselidiki
> selengkapnya...


Referensi

Lewat Pramuka Menuju Aceh
Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
Derita Pengungsi Belum Berakhir
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Info Penyakit Menular
Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Kabupaten Batubara Kekurangan Dana Selenggarakan Pilkada
Karena Ditekan, Glenn Suap Urip Rp 1 Miliar
Rumah Ryan di Jombang Ramai Dikunjungi Warga
Djoko Suprapto Kembali Diperiksa Polisi
Menteri Perhubungan Tegur Maskapai Pecah Ban

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data