Kantor Pemerintah di Aceh Belum Bisa Aktif
Selasa, 11 Januari 2005 | 04:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sampai lima belas hari setelah Tsunami, tidak tampak aktifitas kantor-kantor pemerintahan, di Banda Aceh. Dari pantauan Tempo, Senin (9/1), hampir semua pintu kantor pemerintahan masih tertutup rapat. Bahkan di Kantor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Direktorat Jenderal Pajak Banda Aceh, petugas masih sibuk membersihkan ruang kantor dari lumpur hitam dan sisa reruntuhan yang ada di ruang kantor itu.
Gedung itu memang masih berdiri utuh, namun pada saat Tsunami (Minggu, 26/12) air menyerbu masuk, menenggelamkan semua benda di dalam ruang kantor itu. Kecuali benda-benda yang berada di lantai dua gedung.
Petugas pembersih yang ditemui di kantor itu tidak mengetahui kantor mulai difungsikan. Karena banyak pegawai kantor pajak itu yang belum diketahui keberadaannya.
Aktifitas para legislator juga tidak tampak di Gedung DPRD Banda Aceh. Sebaliknya hanya tampak aktivitas pengungsi. Seperti di Pendopo Gubernur Aceh, seluruh bagian depan Gedung DPRD dipadati pengungsi.
Kesunyian juga terlihat di Gedung Dinas Pendidikan Nasional Banda Aceh. Dari depan, gedung ini terlihat seperti tidak pernah dihuni berbulan-bulan lamanya. Seperti di gedung pemerintahan lainnya, yang terlihat hanya tempelan kertas pemberitaan orang hilang.
Sampai hari ke lima belas, petugas masih mengevakuasi jenazah. Mengenai pengungsi, menurut Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Alwi Sihab akan direlokasi. Selama masa relokasi, pengungsi diberi pelayanan konseling guna memutuskan apakah akan tetap tinggal di tempat semula atau pindah.
Untuk membantu memulihkan Aceh, sampai saat ini pemerintah sudah melibatkan sekitar 1.513 orang personil TNI dan 927 relawan, di luar relawan sipil yang datang atas inisiatif sendiri seperti tim Lumbung Nurani Tempo (LNT). Selain membantu evakuasi, mereka juga mendistribusikan logistik ke daerah -daerah yang tidak bisa dijangkau.
Untuk kebutuhan air bersih, sebagian masyarakat sudah terbantu dengan program air bersih yang dilakukan militer Australia. Dengan alatnya, Australia menyuling air Kali (krung) Aceh yang terletak di dekat Markas Kodam Aceh menjadi air bersih dan membagikannya ke masyarakat.
Sunariah
Topik :






Komentar Anda :