Panglima TNI Minta Masyarakat Tidak Curigai Militer Asing di Aceh

Selasa, 11 Januari 2005 | 14:55 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto meminta masyarakat tidak mencurigai keberadaan bantuan militer asing di Aceh, baik dalam bentuk personil maupun peralatan.

Dalam jumpa pers hari ini, Selasa (11/1), Endriartono yang didampingi Ketua Pelaksana Harian Badan Koordinasi Nasional Alwi Shihab mengatakan, anggota TNI selalu mendampingi para relawan dari negara asing dalam setiap kegiatan mereka, sekaligus menjaga keselamatan mereka. Mereka juga dilarang membawa senjata ke Aceh. Jika diperlukan untuk menjaga keamanan mereka, TNI telah menyiapkan senjata.

Endriartono sendiri mengaku meminta bantuan asing semata-mata untuk segera menyelamatkan kehidupan masyarakat Aceh. Kalau hanya menggunakan kemampuan sendiri dikhawatirkan tidak mencukupi mengingat keterbatasan peralatan maupun sumber daya yang dimiliki. "Kalau hanya dengan kemampuan sendiri barang kali korban akan lebih banyak, karena itu kita segera menghubungi negara-negara sahabat untuk minta bantuan," ujar Endriartono.

Sebelum memberikan keterangan pers, Endriartono terlebih dulu bertemu tertutup dengan perwakilan militer negara-negara asing yang ada di Banda Aceh. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu membahas tentang permintaan maaf pemerintah kepada negara pembantu. Selama menangani Aceh banyak kesalahpahaman antara pemerintah Indonesia dengan negara-negara yang membantu, salah satunya penolakan beberapa pesawat asing untuk mendarat di Medan atau di Aceh.

Menurut Endriartono, penolakan itu karena Indonesia memiliki fasilitas amat terbatas sehingga tidak mampu menampung semua peralatan yang dikirim dari luar negeri seperti pesawat. Pemerintah meminta agar para perwakilan militer asing itu tidak meminta banyak fasilitas guna mendukung kegiatan kemanusiaan di Aceh. "Ini kadang-kadang disalah tafsirkan mereka padahal hanya masalah teknis saja. Saat ini lalu lintas udara di Medan, Banda Aceh sangat ramai sehingga banyak peralatan yang ditolak masuk Medan dan Banda Aceh," ujarnya.

Sunariah

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :