|
Nasional
Saling Bantah TNI AU VS MMI, Soal Pengusiran Relawan
Selasa, 11 Januari 2005 | 20:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) membantah telah melakukan pengusiran relawan dari Majelis Mujahidin Indonesia dari Posko relawan di sekitar Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. "Kami hanya melakukan relokasi,"kata Marsekal Pertama TNI Sagom Tagoem, Selasa (11/1).
Menurut Sagom, pihak TNI yang bertanggungjawab melakukan komando dan pengaturan relawan dari negara asing dan relawan di bandara melihat kondisi bandara sudah terlalu padat dengan banyaknya relawan maupun pengungsi yang mondar-mandor di sana. "Tidak ada relevansinya dengan terorisme (Al Qaidah)," ucap Sagom membantah pernyataan yang memberitakan tentang relawan MMI di Aceh.
Sagom menambahkan bahwa tidak logis kalau laskar mujahidin tersebut diusir paksa karena terkait dengan jaringan Gerakan Aceh Merdeka. "Kalau diusir kenapa tidak semua MMI yang di Aceh disuruh pulang? Hanya yang di Lanud (SIM) karena bandara makin penuh," katanya.
Mereka (laskar mujahidin), menurut Sagom, memilih untuk pulang dari pada direlokasi ke tempat lain. "Kami tidak mengusir, tetapi karena tidak dapat menampung semua," katanya.
Menurut Jenderal penerbang bintang satu, untuk posko di (dalam) dan di sekitar Lanud Sultan Iskandar Muda diprioritaskan untuk relawan dari negara Asing. "Karena mereka memang di bawah komando Panglima TNI dan diberi tempat khusus untuk bertenda di sekitar Lanud saja,"kata Sagom.
Majelis Mujahidin Indonesia, melalui juru bicaranya Fauzan Al Anshori membantah kalau mereka direlokasi. "Kok caranya begitu kalau relokasi? ini evakuasi paksa," katanya. Fauzan menyatakan memang ada pihak-pihak yang tidak suka dengan keberadaan MMI di Aceh. "Fakta pertama pemberitaan dari Michael (Michael C. Corder wartawan AFP) kemarin,"ujar Fauzan.
Kedua keberadaan tiga truk TNI AU ke posko MMI dan meminta evakuasi dengan hanya diberi waktu 30 menit. Dan terkhir pernyataan dari Sofyan Daud, Menteri Penerangan GAM yang meminta FPI (relawan dari front pembela islam) dan MMI untuk meninggalkan Aceh.
MMI, menurut Ketua Lajnah Pimpinan Wilayah MMI DKI Jakarta, siang tadi menerima pernyataan maaf dari pihak TNI dan mendapat penjelasan bahwa mereka hanya terkena imbas pengaturan penempatan relawan dan bukannya diusir dari keberadaannya di Aceh. "Kami berencana juga akan melakukan klarifikasi dengan pihak posko wapres mengenai apa sebenarnya yang kami lakukan dan membantah segala tuduhan yang mendiskreditkan kami,"kata Fauzan.
MMI juga meminta keberadaan tentara Asing dibatasi. "Cukup dua bulan saja selama masa tanggap darurat," katanya.
Agus Supriyanto
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|