Panglima TNI : Masyarakat Tak Perlu Curigai Bantuan dan Militer Asing
Selasa, 11 Januari 2005 | 21:27 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan sudah merencanakan secepat mungkin menghilangkan ketergantungan terhadap bantuan asing dalam upaya memulihkan kondisi di Aceh, akibat gempa dan gelombang Tsunami yang menimpa wilayah itu pada Minggu 26 Desember lalu. Ini dilakukan guna menghindari 'pendudukan' militer asing di Indonesia, yang oleh sebagian kalangan dianggap mengancam kedaulatan.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni segera merelokasi warga (pengungsi) yang ada tempat-tempat terisolasi (terpencil) akibat bencana, sehingga tidak lagi memerlukan helikopter untuk mengangkut bahan bantuan ke wilayah tersebut. "Bantuan itu tidak dihentikan sama sekali tapi secara bertahap,"ujar Ketua Pelaksana Harian Badan Koordinasi Nasional Alwi Sihab menyangkut kekhawatiran banyaknya peralatan militer asing di Indonesia, yakni Aceh dan Medan.
Menurut Alwi jika sudah bisa berdiri sendiri, relawan militer asing akan kembali ke negaranya masing-masing. Mengenai kekhawatiran adanya kegiatan intelejen dengan banyaknya peralatan militer asing di Indonesia, yakni Aceh dan Medan, Endriartono mengungkapkan agar masyarakat tidak perlu mencuriganya.
Menurut Endriartono, keberadaan mereka semata-mata untuk tugas kemanusiaan. Jika pun kegiatan intelejen itu memang ada, tidak hanya terjadi sekarang tapi telah berlangsung lama sebelum bencana Tsunami terjadi. "Tujuan pokok bagaimana upaya maksimal menyelamatkan Aceh, kalau hanya dengan kemampuan sendiri barangkali korban akan lebih banyak," kata Jenderal Endriartoo.
Pemerintah Indonesia, menurut Panglima TNI, sudah mengambil prioritas menyelamatkan kehidupan masyarakat Aceh dibanding mengkhawatirkan keberadaan militer asing. Namun, untuk mencegah kegiatan intelejen asing, TNI selalu mendampingi setiap kegiatan yang dilakukan personil asing tersebut. Termasuk pendampingan untuk menjaga keselamatan mereka. Pemerintah juga melarang militer asing membawa senjata, karena mereka ke Indonesia untuk melaksanakan misi kemanusiaan. Namun TNI telah menyiapkan senjata untuk menjaga mereka. "Karena itu masyarakat jangan mencurigai keberadaan mereka,"katanya.
Sampai saat ini sudah 44 negara asing yang terlibat dalam penanganan dan pemulihan Aceh. Di antara negara tersebut, ada yang mengirim peralatan lengkap dengan personil militernya, ada juga yang hanya mengirim peralatannya. Beberapa negara yang mengirim peralatan personilnya, yaitu Malaysia, Singapura, Australia, Amerika, Selandia Baru, Pakistan, Jerman dan Perancis. Sedangkan negara yang hanya mengirim peralatannya, salah satunya Brunai Darussalam. Inggris sendiri sampai sekarang hanya mengirim bantuan makanan (logistik) dan obat-obatan.
Endriartono yang mewakili pemerintah juga menyampaikan terima kasih kepada negara-negara yang telah memberi bantuan. Menurutnya, dengan bantuan itu hanya tersisa kurang dari satu persen korban yang tidak bisa diselamatkan. Namun, Endriartono meminta maaf kepada para negara-negara asing tersebut, karena pemerintah tidak bisa menyediakan fasilitas yang mereka butuhkan selama kegiatan misi kemanusiaan berlangsung. Hal ini karena keterbatasan sarana yang dimiliki Indonesia.
Sunariah






Komentar Anda :