|
Nasional
Panglima TNI Tolak Rencana Presiden
Rabu, 12 Januari 2005 | 10:29 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menolak rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengirim tiga bataliyon (sekitar 3.000 orang) prajurit untuk menertibkan Aceh pasca bencana.
Menurut Endriartono, langkah mengirim TNI ke Aceh untuk bersih-bersih sangat tidak efisien karena biayanya pasti sangat mahal. Sebaiknya, kata dia, kegiatan pembersihan dilakukan masyarakat setempat. Lalu, biaya pengiriman prajurit dari luar Aceh dapat dialihkan untuk membayai masyarakat yang melakukan kerja rehabilitasi Aceh itu. Menurut dia, langkah itu akan lebih membantu menghidupkan ekonomi masyarakat di Aceh.
"Bukan kami tidak mau (mendatangkan TNI dari luar Aceh), tetapi lebih baik mempekerjakan masyarakat lokal untuk memulihkan kehidupan perekonomian di Aceh," ujarnya semalam, Selasa (11/1). Namun, jika tidak ada cara lain, Endriartono mengatakan, siap mengerahkan berapa pun prajurit yang dibutuhkan.
Siang hari kemarin, Presiden meminta pembersihan kota dan penguburan mayat di Aceh diselesaikan dalam waktu seminggu. Presiden meminta Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Panglima TNI dan Kepala Polri Da'i Bachtiar menambah jumlah alat berat dan personelnya di Aceh. Untuk tugas darurat ini, TNI diminta mengirim tiga batalyon pasukan tambahan, sementara Polri mengirim satu batalyon Brigade Mobil. Dia luar itu, 1.000 taruna militer akan dikirim ke Aceh. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga telah berniat mengirim 100 kuli dari Jakarta dan Medan.
Ketua Pelaksana Hariaan Bakornas Penanggulangan Bencana Pengungsi Alwi Sihab mendukung pendapat Endriartono. Menurutnya, sebaiknya lebih mendahulukan pemberdayaan masyarakat lokal. "Langkah semacam itu telah dilakukan Badan Kependudukan PBB (UNDP)," ucapnya.
Sunariyah
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|