|
Nasional
PBB: Operasi Darurat Berjalan Lambat
Rabu, 12 Januari 2005 | 00:21 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Operasi bantuan darurat di Aceh dinilai tidak cukup cepat. Menurut Margareta Wahkstrom, utusan khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan, selain karena skala bencana yang sangat besar, lambatnya operasi juga karena koordinasi antarorganisasi pemberi bantuan.
"Terlalu banyak sumber daya dan organisasi di sini. Prioritas kami adalah mengkoordinasikan mereka dengan lebih baik. Banyak hal harus dilakukan dengan sedikit lebih cepat," kata Wahlstrom setelah melakukan inspeksi dan bertemu dengan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Rabu (12/1) di Banda Aceh.
Ia juga menekankan adanya kemungkinan para korban selamat di daerah terisolasi yang belum tersentuh bantuan. "Hambatannya adalah mencapai semua daerah, dan saya tidak yakin kita sudah melakukannya," kata dia. "Itulah sebabnya, kita harus lebih sistematis, termasuk memetakan daerah-daerah yang harus diberi bantuan," tuturnya.
Bagaimanapun, sejumlah hal terus dilakukan di wilayah bencana. Pemberian vaksin bagi anak-anak dan bayi, misalnya, kemarin dilakukan di Darul Kalam, Aceh Besar. Pada Rabu (12/1) pagi, di Pusat Kesehatan Masyarakat Biluy, para ibu menggendong anak-anak mereka dan langsung menyerbu petugas kesehatan yang datang.
Namun, sejumlah warga ternyata tidak mengetahui vaksin yang diberikan. Salah seorang ibu, Mislina, 42 tahun, yang menggendong Sauki Akbar, 1 tahun, misalnya, mengaku tidak mengetahui vaksin yang disuntikkan untuk mencegah penyakit apa. "Yang penting suntik saja," kata penduduk Desa Empetring itu. Badriah, 32 tahun, juga mengaku anaknya yang sudah sekolah telah disuntik. "Yang penting tidak kena penyakit tsunami," ujarnya.
Tulus Riyanto, Kepala Subdirektorat Imunisasi, Departemen Kesehatan, mengakui bahwa instansinya kurang memberikan informasi kepada masyarakat soal vaksinasi. Menurut dia, vaksinasi yang diberikan kemarin adalah campak. "Kami sambil jalan saja," tuturnya.
Departemen Kesehatan yang didukung UNICEF dan WHO melakukan program pencegahan penyebaran penyakit campak. Setidaknya 575 ribu anak-anak di seluruh Aceh akan divaksinasi. Setelah bumi dan tsunami menerjang, ditemukan dua kasus penyakit campak yang diderita anak-anak pengungsi. Salah satunya di pengungsian Lam Loong, Loknga.
Daerah Darul Kalam sendiri aman dari terjangan gelombang tsunami, tapi kini dijadikan lokasi pengungsian. Di halaman Puskemas Biluy masih tampak sebuah tenda pengungsi, meski kosong. Kebanyakan dari mereka yang melakukan vaksinasi adalah masyarakat sekitar.
Poernomo G Ridho?Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|