Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Kesaksian Penerjemah Bush: Ba’asyir Dijadikan Momok Terorisme Dunia
Kamis, 13 Januari 2005 | 17:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui utusan khususnya, pernah meminta mantan Presiden Megawati untuk menangkap Abu Bakar Ba`asyir secara rahasia dan menyerahkannya pada pihak AS (render).

Soal ini diungkapkan bekas penerjemah Departemen Luar Negeri AS, Frederick Blake Burks, dalam kesaksiannya pada sidang perkara Ba`asyir, Kamis (13/1) di Auditorium Departemen Pertanian (Deptan). Permintaan AS tersebut menurut Burks, disampaikan langsung utusan Bush kepada Presiden Megawati dalam rapat rahasia, September 2002.

Dalam rapat rahasia yang dilaksanakan di kediaman pribadi Megawati itu, hadir pula anggota Dewan Keamanan Nasional AS, Karen Brooks dan Dubes AS untuk Indonesia Ralph L Boyce, selain utusan khusus -- yang menurut Burks -- mengaku sebagai agen dinas rahasia CIA. Burks sendiri berada di tempat pertemuan itu dalam kapasitasnya sebagai penerjemah. "Saya diminta Karen Brooks mengikuti rapat rahasia itu," kata Burks.

Menurut Burks, rapat rahasia itu diawali dengan basa-basi antara Megawati dan Karen. "Mereka memang telah saling kenal beberapa tahun,"kata Burks. Setelah itu, lanjut Burks, Karen mempersilahkan utusan khusus Bush berbicara langsung dengan Megawati.

Utusan khusus tersebut kemudian mengatakan bahwa telah ada kesaksian dari Umar Al Faruk tentang Ba`asyir. Menurut utusan itu mengutip Al Faruk, Jamaah Islamiyah yang diletuai Ba'asyir telah melakukan dua kali usaha pembunuhan terhadap Megawati. Ba`asyir juga dikatakan sebagai yang mendalangi pemboman di malam Natal.

Megawati, papar Burks, kala itu terlihat menghela nafas. Dia meminta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaaan renderitu. "Ba`asyir berbeda dengan Al Faruk, karena terlalu banyak pendukungnya di Indonesia, hanya satu cara saya bisa melakukannya, bila masyarakat sudah menentangnya" kata Burks menirukan ucapan Megawati saat itu.

Atas penolakan Megawati, ketiga orang AS tersebut menurut Burks terlihat kebingungan. Kemudian utusan khusus Bush mengatakan kepada Megawati bahwa dia dapat memahami kalau permintaan render itu dapat menyulitkan posisi Megawati. Toh, utusan khusus ini tetap meminta agar Megawati segera menyerahkan Ba`asyir sebelum pertemuan APEC. "Bila tidak dilaksanakan, akan ada suatu masalah,"kata utusan tersebut seperti ditirukan Burks.

Rapat rahasia ini, masih kata Burk, dilaksanakan beberapa pekan sebelum terjadi peristiwa bom Bali. Dipenghujung rapat, lanjut Burks, Mega berpesan agar hal ini tidak sampai memutuskan hubungan baik antara AS dan Indonesia. Sepulangnya dari rapat rahasia, kata Burks,di kediaman pribadi Ralph L Boyce, mereka bertanya kepada Burks apakah benar yang dikatakan Megawati itu. Burks pun membenarkan.


Burks mengaku telah bertemu langsung dengan Megawati sebanyak empat kali. Pertemuan pertama terjadi satu pekan setelah peristiwa 11 September di AS. Saat itu Burks mengaku jadi penerjemah pertemuan Megawati dengan Presiden George Walker Bush. Dalam pertemuan ini kata Burks, pemerintah AS menegskan sikap tidak memerangi Islam tetapi memerangi terorisme. Pada pertemuan yang berlangsung selama 90 menit di Gedung Putih ini, kata Burks, sama sekali tidak disinggung soal Ba`asyir.

Ketika Burks ditanya apakah ia percaya Islam identik dengan terorisme, Burks menggeleng sambil menjawab tidak. “Dan banyak warga AS yang tidak percaya kalau Islam identik dengan teror,” katanya. Dalam kasus Ba’asyir, Burks menduga ada manipulasi tingkat tinggi dari pemerintahan AS. “Sepertinya pemerintah Bush penasaran dan ingin menuduh, juga menyalahkan Ba'asyir,” kata Burks.

Burks menilai ada oknum-oknum di pemerintahan AS yang ingin menunjukkan bahwa teror yang dituduhkan selama ini sangat ganas. Padahal, menurut Burks, teror yang diisukan itu tidak terlalu banyak. “Hanya dibuat semacam momok untuk menakuti seluruh umat manusia di dunia,”kata Burks. Namun Burks sendiri menolak menjelaskan siapa yang dimaksudnya dengan oknum di pemerintahan Bush itu, karena menurut Burks, hal itu terlalu rumit untuk dijelaskan.

Burks sendiri merasa ada banyak kejanggalan dalam perkara Ba'asyir. Selain manipulasi oleh pemerintahannya, Burks mengamati bahwa 2 tahun belakangan ini, bila ada berita tentang Indonesia di media-media AS, selalu bersangkutan dengan Ba'asyir.

”Sebelumnya, Indonesia amat jarang diberitakan di media-media AS,” katanya. Warga AS yang tinggal di California ini mengaku hingga kini masih belum mengerti keuntungan apa yang ingin diperoleh Bush dengan menangkap Ba'asyir. “Saya juga heran, saya telah bertanya ke banyak orang, tetapi sampai sekarang belum dapat jawabannya,” kata Burks.

Khairunnisa

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Bakar Ba'asyir saat keluar dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, 28 Februari 2003. Pihak kepolisian menuduh Ba'asyir berencana membunuh Presiden Megawati Soekarnoputri, tetapi dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) yang diserahkan ke kejaksaan pasal tuntutan itu tidak ada, justru dikenakan pasal baru, yakni dituduh makar terhadap pemerintahan yang sah. [TEMPO/ Wahyu Setiawan; K13A/134/2003; 20030404]. Ketua (Amir) Majelis Mujahiddin Indonesia, KH Abu Bakar Ba'asyir usai melakukan Sholat Jumat di Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 03 Januari 2003. Sholat Jumat itu merupakan sholat pertama bagi KH Abu Bakar Baasyir setelah mendapat izin dari Kapolri. [TEMPO/ Taufik Subarkah; Digital Image; 20030209].
KH Abu Bakar Ba'asyir
KH Abu Bakar Ba'asyir
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Burks Bersedia Menjadi Saksi Meringankan Kasus Ba'asyir
Syafii Mengaku Boyce Minta Baasyir Tetap Ditahan
Saksi: Ba'asyir Tidak Miliki Sifat Kekerasan
Usman Membantah Menyembunyikan Dr.Azahari dan Nurdin M.Top
Komisi III DPR Akan Panggil Kapolda Metro Jaya Soal Pembangunan Detasemen 88
Jaksa Tidak Dapat Hadirkan Ali Imron Pada Sidang Ba'asyir
Bush Pernah Minta Megawati untuk Tangkap Ba'asyir
Enam Saksi Sidang Ba'asyir Tak Dapat Dihadirkan
Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen Pada 2005
Mantan Anggota JI Yakin Ba'asyir Adalah Amir
> selengkapnya...


Referensi

Kronologi Kasus Abdul Jabar
Perjalanan Ali Gufron
Kronologi Kasus Imam Samudra.
Jenderal Laskar Istimata
Rangkaian Pencabut Nyawa
Imam Samudra: ”Demi Allah, Tak Akan Selesai”
InpresRI No. 5 Thn 2002 (kepada Kepala Badan Intelijen Negara sehubungan dengan terorisme)
Inpres RI No. 4 Thn 2002 (kepada Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sehubungan dengan terorisme)
UU RI No.15 Thn 2003 Tentang Penetapan PERPU 1/2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang
> selengkapnya...

Website

Kejaksaan RI
Kepolisian Negara Republik Indonesia
Badan Intelijen Negara
Majelis Mujahidin Indonesia
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [3]


Berita Terakhir

Paranoid dan Irasional
619 Pasien Dioperasi Gratis
Realisasi Akuisisi Rio Tinto Tertunda
Tol Penjaringan-Kebun Jeruk Selesai Juni 2009
Cuaca Hari ini Didominasi Awan dan Hujan

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data