|
Presiden Terima Usulan Panglima TNI Soal Pembersihan Aceh
Kamis, 13 Januari 2005 | 19:13 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima usulan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menggunakan personil TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), taruna dan masyarakat lokal untuk membersihkan wilayah Nanggroe Aceh Darussalam dari puing dan reruntuhan akibat gempa dan gelombang Tsunami yang terjadi pada 26 Desember lalu. Hal ini disampaikan Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayor Jenderal Sjafrie Samsudin kepada Tempo hari ini, Kamis (13/1), di Banda Aceh .
"Presiden setuju usulan Panglima TNI menggantikan tiga
bataliyon dengan penggunaan manajemen TMMD, taruna
akademi militer dan kepolisian serta masyarakat lokal
untuk membersihkan Aceh," ujar Sjafrie. Sebelumnya,
Presiden memutuskan mengirim tiga batalion dari luar
Aceh guna membantu membersihkan Aceh. Namun usulan ini
di tolak Panglima karena dianggap tidak efisien, dari
segi biaya maupun keamanan. Menurut Panglima, langkah
seharusnya yakni mengkonsentrasikan penggunaan
manajemen TMMD, taruna akademi militer dan kepolisian
serta masyarakat lokal. "Itu kalau dihitung-hitung
totalnya berjumlahnya 12 bataliyon (TMMD dan siswa
taruna), ini kekuatan dahsyat," ujar Sjafrie.
Usulan ini, lanjutnya, sudah diterima Presiden
beberapa saat setelah rencana pengiriman tiga batalion
disampaikan Presiden ke Panglima, kemarin (Rabu, 12/1)
dalam pertemuan mereka di Sibolga, Sumatera Utara.
Saat ini, sebagaian dari mereka sudah berada di Aceh,
sedangkan para taruna masih dalam perjalanan. Mereka
diberangkatkan langsung dari Surabaya (Akademi TNI AL)
dan Semarang (Akademi TNI AD, AU dan Kepolisian)
menggunakan Kapal Pelni. "Mereka tidak diangkut
Hercules agar tidak mengganggu pengiriman logistik
untuk pengungsi," tambahnya.
Untuk menangani Aceh, kata Sjafrie, TNI sebagaimana
ditetapkan Pemerintah, melakukan empat kegiatan yakni
mengevakuasi dan memakamkan jenazah,membantu
distribusi logistik dan kesehatan untuk pengungsi,
membantu relokasi pengungsi dan membangun jaringan
komunikasi. Namun dalam pelaksanaannya, TNI
memprioritaskan mengevakuasi dan memakamkan jenazah,
berdasarkan perintah Presiden yang diterima pada 28
Desember lalu.
Karena itu, TNI telah menggerakkan lima batalion
pasukan non tempur yang diambil dari Komando Daerah
Militer (Kodam) Bukit Barisan. "Kita langsung kerja
membersihkan Lambaro," kata Sjafrie. Selain
mengerahkan lima bataliyon, TNI juga mengerahkan 3
bataliyon Zeni Konstruksi yang ditempatkan di Blang
Padang, serta Marinir yang ditempatkan di Meulaboh.
"Tapi itu masih belum cukup, sehingga muncul konsep
mengkonsentrasikan TMMD dan Taruna ke Aceh."
ungkapnya. Namun, tanpa sepengetahuan TNI tiba-tiba
muncul keputusan mendatangkan tiga bataliyon guna
membantu membersihkan Aceh. Kepada Tempo Selasa malam,
Endriartono mengatakan terkejut dengan usulan itu.
Sehingga dia langsung mengusulkan kepada presiden
sebaiknya menggunakan manajemen TMMD dan taruna serta
masyarakat lokal. Terutama untuk menghidupkan
prekonomian di Aceh.
Untuk pendanaan operasional kegiatan itu, kata
Sjafrie, akan menggunakan dana APBD TMMD
masing-masing daerah yang telah dianggarkan dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Alokasi dana
itu, kata dia, sebelumnya telah disepakai oleh TNI,
dapartemen teknis dan DPR. "Jadi tidak perlu lagi
anggaran baru," ujarnya.
Mengenai dominasi pengamanan oleh TNI di Aceh, Sjafrie
mengatakan hal ini terjadi karena siatuasi di Aceh
dianggap darurat, dan personil Polisi banyak menjadi
korban sehingga pengamanan diambil alih TNI. Namun dia
menegaskan, operasi yang dilakukan TNI tidak bersifat
ofensif melainkan hanya humanitarian assistance (
bantuan kemanusiaan).
Sunariah, Purwani Diyah Prabandari, Setri Yasra
INDEKS BERITA LAINNYA :
|