Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

PBB akan Kurangi Keberadaannya di Aceh
Jum'at, 14 Januari 2005 | 20:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengurangi keberadaannya di Nanggroe Aceh Darussalam seiring beralihnya fokus bantuan ke arah rekonstruksi dan meningkatnya kemampuan pemerintah Indonesia menangani masalah di Aceh. "PBB memahami kepentingan pemerintah RI untuk membatasi keberadaan warga asing di Aceh," ujar Margareta Wahlstrom, Koordinator Khusus Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk Usaha Penanggulangan Tsunami, kepada pers di Media Center PBB Jumat (14/1).

Ia menyatakan PBB telah mempertanyakan kepada pemerintah Indonesia soal batasan waktu keberadaan militer asing dan pembatasan wilayah warga asing serta dampaknya terhadap operasi kemanusiaan. "Sejauh ini pembatasan tidak menimbulkan masalah dan mengganggu operasi kemanusiaan,"ujarnya.

PBB, katanya, sudah terbiasa beroperasi di daerah konflik dan memiliki standar pengaturan keamanan sambil terus menjalin kerjasama erat dengan pemerintah. Selama ini, katanya, belum ada laporan mengenai hambatan dalam pemberian bantuan akibat konflik di Aceh, baik dari pihak pemerintah maupun GAM. "Jika masalah tersebut muncul, akan diambil langkah-langkah selanjutnya,"tegasnya.

Ia menambahkan, PBB maupun LSM asing akan menaati prosedur yang berlaku mengingat dalam kurun waktu 25 tahun kondisi keamanan di Aceh sarat dengan konflik. "PBB akan bekerjasama dengan pemerintah RI," ujarnya. Sampai saat ini, katanya, belum ada laporan dari warga negara asing di Aceh yang mendapat ancaman.

Walhstrom menilai kekhawatiran pemerintah mengenai masalah keamanan dan perlunya organisasi-organisasi non-pemerintah mendaftarkan diri sebagai hal yang positif. "Demi kebaikan semua pihak, identitas, keberadaan serta tujuan setiap orang perlu tercatat dengan baik,"ujarnya.

Ia menambahkan, masalah utama yang muncul dalam pembicaraan dengan pihak pemerintah adalah bagaimana keberadaan pekerja kemanusiaan internasional termasuk ratusan orang dari organisasi non-pemerintah dapat dimanfaatkan secara produktif. "Jika tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan masalah baru bagi pemerintah," katanya.

Ia menjelaskan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana lebih mempercepat kerjasama antara berbagai pihak terutama pihak-pihak di dalam sistem PBB dan pemerintah Indonesia. "Keberadaan PBB adalah untuk mengkoordinasikan bantuan internasional dengan pemerintah Indonesia,"tegasnya.

Selain itu, katanya, penyelesaian dan penyusunan kajian yang dilakukan badan-badan PBB, pemerintah dan organisasi non-pemerintah mengenai kondisi kesehatan di seluruh wilayah Pantai Barat telah selesai dilaksanakan. "Pemetaan daerah pengungsi yang penting bagi penyusunan rencana pemerintah dalam menempatkan tenaga sukarelawan, sedang berlangsung,"ujarnya.

Menjawab pemberitaan mengenai PBB meminta bayaran sebesar USD 350 juta untuk mengelola bantuan internasional, ia menegaskan bahwa pemberitaan itu tidak benar. "Hanya sejumlah kecil dari dana sebesar USD 400 juta yang dijanjikan untuk membantu Indonesia digunakan untuk biaya administrasi. PBB tidak mengambil keuntungan sama sekali," bantahnya.

Badriah

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Ketua UNTAET, Sergio Vieira de Mello (kanan) didampingi Komandan Pasukan Penjaga Keamanan PBB, Letjen Winai Pattiyakul (kiri) memeriksa pasukan pada acara perpisahan dengan ketua UNTAET di depan kantor UNTAET  Dili, Timor Lorosae, Jumat, 17 Mei 2002. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20020621] Ketua UNTAET, Sergio Vieira de Mello (kanan) berpamitan kepada Komandan Pasukan Penjaga Keamanan PBB, Letjen Winai Pattiyakul (kiri) pada acara perpisahan dengan ketua UNTAET di depan kantor UNTAET,  Dili Timor Lorosae, Jumat, 17 Mei 2002.
[TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20020621]
Sergio
Sergio
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Banjir di Jakarta Tergantung Proyek Kanal Timur
Parlemen Minta Pemerintah Serius Urus 300 Anak Aceh
Seto: Penculikan Anak di Aceh Memang Ada
300 Pasukan Polri Dikirim ke Aceh
Deplu Bantah PBB Minta Komisi US$ 350 Juta
Pemerintah Bantah Tawaran Gencatan Senjata Inisiatif GAM
Deplu Telah Kirim Petunjuk Larangan Keluarkan Anak Aceh
Deplu: Tidak ada Batasan Waktu untuk Bantuan Asing
Pemerintah Indonesia Bantah Berikan Izin ke World Help
Deplu: Indonesia Tak Pernah Terima Bantuan dari Israel
> selengkapnya...


Referensi

Ada Yang Malah Berenang di Lumpur
Lewat Pramuka Menuju Aceh
Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
> selengkapnya...

Website

Info Penyakit Menular
Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Pasokan Daya Listrik PLN Tidak Transparan
Ratusan Pengusaha Tionghoa Nyatakan Dukungan Pada Yudhoyono
Presiden Optimistis Indonesia akan Jadi Lumbung Padi
Dua Pejabat Kutai Kertanegara Ditahan
Suara NU Tentukan Putaran Kedua Pemilihan Gubernur Jawa Timur

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data