|
Nasional
Guru Bantu Aceh Akan Diutamakan
Minggu, 16 Januari 2005 | 20:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berjanji akan mengutamakan guru-guru kontrak, atau guru-guru bantu untuk mengatasi kekurangan staf pengajar setelah bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu. “Kami akan mengutamakan guru-guru dari daerah dulu,” ujar Anas M. Adam, Wakil Kepala Dinas Pendidikan NAD, Minggu (16/1), di Banda Aceh.
Pernyataan Anas ini menjawab banyaknya pertanyaan dan saran sebagian guru di NAD. Sabtu sebelumnya (15/1), seorang guru kontrak di Madrasah Tsanawaiyah Negeri (MTsN) Rukoh, Darussalam sambil menangis-nangis meminta agar guru Bantu di Aceh diangkat untuk menggantikan guru-guru yang hilang. “Tolong, pemerintah segera mengangkat kami yang sudah lama mengabdi untuk menggantikan guru-guru yang hilang,” ujar Mawadah di sela isaknya.
Solidaritas Guru dan Siswa NAD (Soligus-NAD), gabungan organisasi Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) dengan guru-guru Aceh di Banda Aceh, menyerukan hal yang sama. “Kami mengharapkan agar guru-guru kontrak atau bantu diangkat daripada mendatangkan guru-guru dari daerah lain,” ujar Zulkifli, guru MTsN Rukoh Darussalam. “Ini agar para siswa tetap diajar dalam budaya Aceh sehingga budaya lokal tidak hilang,” kata Ketua Bidang Kehumasan FGII, Iwan Hermawan menjelaskan alasannya.
Hingga kemarin, menurut Anas Adam, sekitar 1.557 staf pengajar belum diketahui keberadaannya. Ada yang pasti meninggal, ada yang di posko pengungsi atau ada juga mengungsi ke kota lain. Dari angka tersebut 125 di antaranya adalah guru bantu/kontrak.
Saat Tempo berkeliling ke bebarapa sekolahan pada Sabtu (15/1) lalu, suasana belajar sama sekali belum normal, baik di sekolah yang tidak rusak ataupun sekolah-sekolah sementara. Hari itu merupakan hari terakhir proses belajar mengajar karena mulai Minggu, sekolahan mulai libur semester dan dilanjutkan libur hari raya Idul Adha.
Prabandari
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|