|
Nasional
Mereka Butuh Aktivitas
Senin, 17 Januari 2005 | 01:41 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Udara belum terlalu panas. Ketenangan masih menyelimuti seluruh ruangan Rumah Sakit Jiwa Zainal Abidin Banda Aceh. Beberapa pasien berseragam biru muda terlihat duduk-duduk santai menikmati kesendirian, ketika Dirman, lelaki setengah baya itu berjalan gontai memasuki ruang Trauma Center di rumah sakit ini. Wajahnya yang hitam terbakar panasnya matahari masih menyiratkan kepedihan mendalam. Dengan hanya mengenakan kaos hijau dan celana panjang kumal, lelaki itu menemui Sita Purba, seorang terapi psikologis yang telah menantinya di tempat itu.
Dirman ingin menumpahkan kecemasannya lagi. Membagi perasaan dan kesedihannya dengan Sita.
Sita menyunggingkan senyum menyambut kedatangan Dirman dan mempersilahkannya memasuki ruangan 4 x 5 meter itu. Keduanya kemudian duduk beralaskan tikar yang dilapisi selimut merah.
Dirman, yang meskipun sebelumnya pernah bertemu Sita, masih terlihat sedikit canggung. Namun, kegaguan itu tak berlangsung lama. Begitu duduk Dirman langsung bercerita. Dia kembali menumpahkan kepedihannya karena kepergian istri dan anaknya saat tsunami menerjang Aceh.
Sesekali tatapan matanya menerawang, sesekali juga dia tertunduk lesu sembari memegang kepalanya. Tak jarang pula dia tiba-tiba serius dan sesekali tertawa. Dihadapan Sita, tak henti-hentinya Dirman menyalahkan dirinya. Merasa dirinya berdosa karena istri dan anaknya meninggal akibat bencana. Rumah yang baru dibangunnya pun musnah.
Sita sabar mendengar cerita keluhan Dirman. Sita lebih banyak mendengarkan dan tak banyak menanggapi.
Setelah Dirman tuntas bercerita, Sita memberikan nasihat. Dia mencoba menyemangati Dirman, agar memulai hidup baru dan tidak terlalu larut dalam kesedihan. "Itu semua bukan dosa Dirman," Sita berusaha meyakinkan.
Hampir satu jam lamanya Dirman berkonsultasi dengan Sita, hingga akhirnya Dirman berpamitan dan merasa bebannya sudah sedikit berkurang.
Ditemani Sita Dirman keluar meninggalkan ruang konsultasi. Dia kemudian menuju salah satu bilik dokter umum, di tempat ini Dirman di beri obat penenang.
Kepada Tempo, Sita menceritakan Dirman adalah salah satu pasien yang ditanganinya. Menurut Sita, kedatangan Dirman adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya Dirman mendatangi klinik trauma center di Gedung Museum Banda Aceh. Saat itu kondisi Dirman sangat memprihatinkan. Seperti anak kecil, tak henti-hentinya dia menangis, meratapi kepergian anak istrinya.
"Dia mengrobol banyak hari ini. Dia menceritakan usaha ayamnya, tak lagi hanya menceritakan anak istrinya. Dia sudah mulai berencana akan melakukan sesuatu untuk menghidupi satu anaknya yang selamat," ujar Sita.
Dirman-Dirman yang lain masih banyak. Setiap hari, Sita harus menangani tiga hingga tujuh pasien. Seorang pasien, rata-rata mengungkapkan isi hati selama dua jam. Padahal tenaga psikolog di tempat itu, hanya Sita sendiri. "Yang saya khawatirkan adalah orang-orang yang tidak mau berbagi penderitaan mereka," kata Sita.
Sita adalah psikolog yang saat ini aktif sebagai tenaga terapi kejiwaan di Pusat Terapi dan Pendidikan Bintang Kecil Indonesia, Jakarta. Sita yang bergabung dengan tim Trauma Center Media Group menyesalkan keterlambatan pemerintah menangani trauma psikologis masyarakat Aceh. Seharusnya, kata Sita, pemerintah bisa segera mengakomodasi mereka, mengaktifkan kehidupan mereka kembali sehingga kesedihan dan traumanya tidak berlarut-larut.
Menurut Sita, tidak terlalu sulit menghilangkan trauma masyarakat Aceh. Pemerintah, lanjutnya, bisa mngatasinya dengan memberi mereka aktivitas. "Aktivitas adalah obat psikologis, apalagi kalau mereka dibayar jika melakukan sesuatu, mereka akan merasa hidupnya berharga," ucap Sita.
Sunariah
INDEKS BERITA LAINNYA :
|