|
Nasional
Depsos Minta Kepolisian Usut Worldhelp
Senin, 17 Januari 2005 | 21:24 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Jakarta --- Departemen Sosial meminta agar polisi mengusut tuntas rencana pengiriman 300 anak Aceh ke Jakarta oleh misionaris Worldhelp, sebuah organisasi nasrani yang bermarkas di Virginia, Amerika. Organisasi itu memiliki cabang di Indonesia. "Jika diusut tuntas oleh kepolisian, mereka bisa dihukum 12 tahun karena ini penculikan," ujar Sekjen Depsos, Ruchadi, di Jakarta Senin (17/1).
Direktur Perlindungan Anak Departemen Sosial, Makmur Sunusi, menambahkan, tim dari interpol dan Departemen Luar Negeri sudah mengecek ke lapangan dan sampai sekarang belum menemukan indikasi terjadinya penculikan. "Pasalnya agak sulit mengangkut anak sebanyak 300 orang itu," ujarnya.
Menurut dia, Worldhelp Indonesia memang berencana memurtadkan 300 anak Aceh itu, namun batal karena terlanjur ketahuan. "Mereka meminta bantuan Worldhelp AS dan mereka bersedia membantu,"ujar Sanusi.
Kisah tentang 300 anak itu berawal dari berita yang dilansir koran Washington Post terbitan 14 Januari. “Anak-anak ini sudah tidak lagi mempunyai rumah, miskin, trauma, yatim piatu, dan tanpa tujuan, tidak ada tempat untuk tinggal dan tidak punya makanan. Jika kita bisa menempatkan mereka di dalam panti asuhan anak-anak Kristen, kepercayaan mereka terhadap Kristus akan tumbuh dan menular ke masyarakat Aceh,” kata Vernon Brewer, Presiden Worldhelp seperti dikutip koran itu. Brewer mengaku telah mengantongi izin dari pemerintah Indonesia.
Namun, keesokan harinya, Brewer mengirim e-mail ke Washington Post dan menyatakan, Wordhelp batal merealisasikan rencana itu karena tak mendapat izin dari pemerintah Indonesia.
Di Amerika sendiri, niat Worldhelp itu juga menuai kecaman. Organsisasi sosial itu dinilai tak sepantasnya melakukan kristenisasi di tengah bencana dahsyat yang melanda warga Aceh.
Badriah
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|