Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Dikritisi, Badan Otorita untuk Aceh
Sabtu, 22 Januari 2005 | 20:45 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Sofian Effendi, tidak setuju atas rencana pemerintah untuk mendirikan Badan Otorita Aceh untuk merehabilitasi Aceh pascabencana. Sofian menilai, mendirikan Badan Otorita untuk Aceh sangat berbahaya, karena konflik antara masyarakat Aceh dan pemerintah pusat akan makin meruncing.

"Kita perlu mengkritisi masalah ini, efek kebijakan ini sangat berbahaya, sebab pendirian Badan Otorita bisa ditafsirkan sebagai pengambilalihan pemerintah daerah oleh pemerintah pusat," tegas Sofian di depan ratusan mahasiswa UGM asal Aceh pada acara pemberian beasiswa di Ruang Multimedia Gedung Pusat UGM, Sabtu (22/1).

Sofian mengaku sudah melakukan pembicaraan dengan Ketua DPR RI, Agung Laksono, dan Ketua DPD RI, Ginandjar Kartasasmita mengenai rencana pembentukan Badan Otorita ini. Kepada dua petinggi ini, Sofian mengaku menyampaikan pandangannya, betapa berbahayanya rencana mendirikan Badan Otorita untuk Aceh. Sekaligus meminta kedua pejabat tinggi itu untuk berusaha sekuat tenaga mencegah rencana pemerintah tersebut.

Menurut Sofian, yang diperlukan oleh Aceh bukan Badan Otorita, melainkan sebuah lembaga koordinator untuk penyaluran bantuan dan rehabilitasi. Sofian menilai, sebenarnya cukup dilakukan dengan memberdayakan pemerintah daerah setempat yang didukung Badan Koordinasi Nasional untuk Penanggulangan Bencana Alam yang ada saat ini.

Sofian mengaku, Bakornas saat ini kurang berfungsi maksimal. Akibatnya, banyak bantuan luar negeri, termasuk bantuan tenaga dan logistik, tidak ada yang mengkoordinasikannya. Banyak logistik bertumpuk, tidak terdistribusi dengan cepat ke para pengungsi yang memerlukan bantuan. Sementara Pemda saat itu setengah lumpuh karena pegawainya banyak hilang akibat bencana.

Namun, kata Sofian, untuk mengatasi persoalan tersebut tidak perlu harus dengan membentuk Badan Otorita. Tugas Badan Otorita dalam kacamata Sofian adalah
untuk mengembangkan satu wilayah yang belum ada pemerintahan efektif untuk menangani satu masalah. Dalam kasus Aceh saat ini, kata Sofian, sudah ada
pemerintah daerah, meski kondisi rilnya amat lemah akibat bencana.

"Dalam otonomi seperti ini saya kira kurang bijaksana kalau diatasi dengan mendirikan Badan Otorita, itu berarti menarik kembali kewenangan yang sudah diberikan kepada masyarakat Aceh oleh pemerintah pusat," ujarnya.

Sofian kemudian mencontohkan pendirian Badan Otorita Batam yang belakangan ini menyulut konflik antara Badan Otorita dengan Pemerintah Daerah setempat. Terjadi rebutan kewenangan antara Badan Otorita dengan Pemerintah Daerah. Dalam kasus Batam ini, memang Badan Otoritanya didirikan lebih dulu, baru kemudian Pemerintah Daerahnya.

"Sementara di Aceh, sudah ada pemerintah provinsi, ada pemerintah kabupaen, kalau pemerintahan yang sudah ada ini kemudian ditumpangi kehadiran Badan Otorita untuk merehabilitasi Aceh, saya kira potensi konflik akan sangat-sangat besar. Persengketaan antara masyarakat Aceh dengan pemerintah pusat bukannya berkurang, malah akan bertambah keras," tegas Sofian.

Heru C Nugroho (Yogyakarta)

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Rumah penduduk yang hancur karena bencana tanah longsor di desa Kemanukaan, Kec. Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Foto: Rini/ PWI. Penduduk di lokasi bencana alam tanah longsor di Purworejo, Jawa Tengah, 2000. [TEMPO/LN Idayanie].
<br>
Dimuat majalah TEMPO 20001210-154
Tanah Longsor Purworejo
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

PBNU Kirim 500 Ustadz ke Aceh
PBNU Kalengkan Daging Kurban
Beasiswa UGM untuk Mahasiswa Aceh
Mengejar Target Relokasi Pengungsi
Puteh Kunjungi Aceh Tanpa Diborgol
Harga Kebutuhan Pokok di Meulaboh Mulai Stabil
Idul Adha Jadi Tonggak Kebangkitan Aceh
Sampah Mulai Menumpuk di RS Zainoel Abidin
Turki Sumbang 1.400 Sapi untuk Aceh
Dompet Dhuafa Belum Peroleh Lokasi Rumah Pengungsi
> selengkapnya...


Referensi

Ada Yang Malah Berenang di Lumpur
Lewat Pramuka Menuju Aceh
Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Info Penyakit Menular
Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Empat Calon DPD Sumatera Selatan Terancam Gugur
Verifikasi Faktual DPD Lampung Terancam Molor
Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data