|
Nasional
Guruh, Kuda Hitam Calon Ketua Umum PDIP
Minggu, 23 Januari 2005 | 01:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Anggota Presidium Gerakan Pemurnian PDI Perjuangan Bambang Pranoto menganggap Guruh Sukarnoputra punya peluang untuk meraih kursi ketua umum PDIP. Diantara lima nama calon ketua umum yang saat ini tengah beredar, “Nama Guruh masih cukup beralasan (untuk menang),” ujar Bambang kepada TEMPO melalui sambungan telepon, hari Sabtu (22/1).
Potensi Guruh untuk naik ke permukaan, menurut Bambang, tidak lepas dari mayoritas pendukung PDIP yang merupakan penyokong tradisional dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Dan “mereka kuat sekali (kecenderungan) untuk memilih keturunan Bung Karno,” tutur Bambang.
Bambang yang sekarang menjabat sebagai anggota Balitbang PDIP mencontohkan, bahwa kemenangan PDIP pada pemilu 1999 dan urutan dua di pemilu terakhir, adalah bukti dari kuatnya faktor pemilih tradisional. “Soekarnoisme masih mayoritas,” jelasnya.
Dan di jaman pemilihan presiden ataupun anggota legislatif secara langsung seperti saat ini, menurut Bambang, PDIP bisa kembali pada partai yang menganut primordialisme. “Unsur-unsur primordialisme dan pendukung kharisma akan muncul,” katanya. Primordialisme ini kata Bambang, penting untuk menjaga hubungan historis dengan para partai-partai cikal bakal PDIP, seperti Partai Nasional Indonesia. “Karena jika PDIP tidak menjaga hubungan historis, bisa repot, perolehan suara akan menurun,” tandasnya.
Dari lima calon ketua umum: Megawati Soekarnoputri, Arifin Panigoro, Laksamana Sukardi, Sophan Sophiaan, dan Guruh Soekarnoputra, Bambang menilai setiap nama tak seratus persen sempurna. Misalnya, Bambang menyebut, “Arifin sebagai ketua, tapi diturunkan, Laksamana saat menjabat di eksekutif dinilai tak terlalu bersinar, dan Sophan pada pemilu yang lalu bukannya mendukung calon dari PDIP yakni Mega, tapi malahan mendukung SBY,” tuturnya.
Sementara itu, peluang Megawati untuk jadi ketua umum PDIP dinilai Bambang tipis. “Secara de facto Mega gagal, baik internal ataupun eksternal,” ucapnya. Megawati, menurut Bambang, selain membawa PDIP pada kekalahan suara, ditambah dengan tidak bisa direbutnya posisi presiden pada pemilu lalu.
Dimasa depan, menurut Bambang, PDIP harus mengubah paradigma. “Sekarang jamannya pemilihan langsung, sebagai partai modern, paradima harus bergeser, tidak lagi bergantung pada kekuatan massa, tapi lebih pada kekuatan pemimpin partai,” katanya. Bambang mengingatkan kalau konsekuensi dari sistem pemilihan langsung adalah adanya pemilih yang rela meninggalkan partai, demi memilih orang di lain partai yang dianggap lebih kredibel.
Rr Ariyani
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|