Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kader Daerah Pecah Soal Pencalonan Megawati
Minggu, 23 Januari 2005 | 18:06 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Sejumlah kader PDI Perjuangan di Jawa Tengah - yang berada di luar struktur pengurus partai - menyatakan bahwa secara moral rejim Megawati Soekarnoputri tidak lagi memiliki legitimasi untuk kembali memimpin partai tersebut. Kegagalan memperjuangkan amanat konggres di Semarang untuk memenangkan partai dalam pemilu, serta mengegolkan ketua umum sebagai presiden menjadi tanggung jawab pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati.

Rangkaian kesimpulan itu dikemukakan oleh Presidium Komite Pembersihan dan Pemurnian (KPP) PDI Perjuangan Jawa Tengah, Didik Wahyudiono. "Logika organisasi modern memang rejim DPP PDIP tidak lagi memiliki legitimasi untuk dicalonkan karena mereka gagalkan memperjuangkan amanat konggres Semarang. Tetapi memang PDI Perjuangan partai yang irasional," kata dia.

Ketidakrasionalan PDIP, lanjut Didik, salah satunya adalah pengkultusan terhadap sosok Megawati yang tidak saja di tingkat basis massa tetapi juga pada elite partai. Pemberian hak preogratif kepada Megawati dalam memimpin partai tanpa batas disebut sebagai salah satu bentuk dari sikap mendewa-dewakan bekas presiden tersebut. "Cek kosong itu harus dihilangkan kalau PDI Perjuangan ingin menjadi partai modern," tandasnya.

Sikap kader di luar jajaran struktur partai ini ditentang oleh kader yang duduk di struktur partai yang menyatakan bahwa keinginan untuk mencalonkan Megawati sebagai ketua umum lagi merupakan harga mati. FX Hadi Rudyatmo, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Solo, menyatakan lima tahun ke depan Megawati masih harus memimpin partai itu. Soal, "Penyebab kegagalan dalam memperjuangkan amanat konggres Semarang bukan Megawati, tetapi orang-orang di sekitarnya," tandasnya.

Rudyatmo menegaskan PDIP memang perlu untuk melakukan pembaharuan dan dibersihkan dari kader-kader busuk. Tetapi hal tersebut tidak berarti menggusur Megawati dari kursi ketua umum karena kepemimpinannya masih diperlukan. Dikatakannya, dari semua tingkatan pengurus partai di Solo memiliki satu sikap untuk mencalonkan kembali Megawati. "Mega menjadi ketua umum lagi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar," tegas anggota DPRD Solo ini.

Hariadi Saptono, pengurus DPC PDIP Solo lainnya bahkan mengatakan utusan konggres yang tidak mencalonkan Mega dalam konggres di Bali, Maret mendatang merupakan pengkhianat partai. Dia menyebutnya sebagai pengkhianat sehingga meng-halal-kan darah pengkhianat partai tersebut. Hariadi mengancam akan memburu utusan konggres dari Solo bila diketahui tidak mencalonkan Megawati. "Sebagai peringatan agar utusan konggres tidak tergiur politik uang dari pihak luar yang akan mengintervensi konggres dengan calon titipan," tegasnya.

Hal yang sama dikemukakan oleh sejumlah pengurus anak cabang di Solo. Mereka mengancam akan mengerahkan ribuan satgasnya untuk mengawal utusan konggres di Bali. Pengawalan tersebut dimaksudkan semacam karantina agar para utusan tidak terpengaruh gerilya pesaing Megawati. Menurut Ketua PAC Jebres, Indratno, setidaknya 51 bus berisikan satgas dan pendukung setia Mega akan turut ke Bali mengawal utusan konggres.

Menurut Didik Wahyudiono, isu pesaing Mega sebagai calon titipan dari luar partai sengaja dihembuskan oleh inner cycle Megawati agar di dalam konggres nantinya tidak terjadi perubahan apalagi pembersihan kader-kader busuk. Apalagi saat ini muncul isu bahwa panitia konggres akan membuat tata tertib pencalonan yang dimaksudkan menjegal para pesaing Mega. "Bila dalam konggres hanya ada calon tunggal, kegagalan rejim Mega semakin bertambah karena tidak terjadi renegerasi," tukasnya.


Imron Rosyid


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Pasokan Daya Listrik PLN Tidak Transparan
Ratusan Pengusaha Tionghoa Nyatakan Dukungan Pada Yudhoyono
Presiden Optimistis Indonesia akan Jadi Lumbung Padi
Dua Pejabat Kutai Kertanegara Ditahan
Suara NU Tentukan Putaran Kedua Pemilihan Gubernur Jawa Timur

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data